Sabtu, 05 Oktober 2013

JERAWAT

Diposkan oleh mongyimongyi di 09.12
Reaksi: 

“tidak!” teriakanku menggelegar di pagi buta. Sontak seisi rumah menghampiri kamarku tergopoh-gopoh. Pintu kamar di dobrak. Ayah, ibu dan abangku yang katanya paling ganteng seantero kompleks RSS (Rumah Sangat Sederhana) melotot kearahku yang sedang mematut cemberut di depan cermin.
Aku menunjuk jerawat besar dipipiku, masih dengan mimik jengkel. Ayah dan mamaku berbarengan menghela nafas, geleng-geleng heran dengan frustatsiku karena bisul menyebalkan itu. Abangku yang jahil berulah “wah, bengkaknya besar banget. Plak…” tanpa ampun telapak tangannya mampir dipipiku. Aku yang tanpa antisipasi mengerang kesakitan. Berguling-guling di lantai menahan tamparan mematikan. Tidak ada saksi atas penganiayan ini. Mama dan ayah sudah berlalu sedari tadi. Sedangkan abangku, sebagai pelaku kejahatan cekikikan menonton penderitaanku.
“awas, akan kubalas!” ucapku penuh dendam, tetap memegang pipi yang mulai memerah. Kuakui memang wajahku tidak mulus-mulus amat. Tapi setidaknya tidak pernah muncul jerawat sebesar ini dimukaku yang cukup terawat.
“bisul sekecil itu, hebohnya gak ketulungan!” gerutunya. Abangku yang paling usil sedunia melenggang bebas keluar kamarku tanpa peradilan. Sungguh sadis, tidak ada rasa penyesalan tergurat diwajahnya. Abangku menganggap jerawatku kecil, tapi bagiku itu sudah terlampau besar dihitung dari tingkatan penyakit bisul.
***
Pagi ini, aku terpaksa satu mobil dengan sang terdakwa, gara-gara mama dan ayah pergi reunian. Perjalanan ke sekolah terasa sangat lama.Padahal kalau diantar mama cukup 15 menit saja sudah sampai. Aku membisu di balik masker wajah penutup bisulku. Abangku malah tersenyum geli melihat marahku yang tak kunjung mereda.
“kecantikan itu tidak seluruhnya dinilai dari luar. Inner beauty itulah yang terpenting. Jadi, jerawat seimprit gitu enggak akan menghalangi laki-laki terpesona kalau tingkah lakumu indah” ceramah abangku, lekas memegang kepalaku yang berjilbab. Aku melihat segudang perhatiannya kepadaku, adik manja satu-satunya.
Sampai  sekolah, ramai teman-temanku bergerombolan didepan mading. Mereka berbisik-bisik sesekali tertawa kegirangan. Barang ada sesuatu yang lucu dan menarik perhatian mereka. Karena tidak biasanya mading itu dikerumuni seperti halnya kantin sekolah. Aku menerobos kedepan dan terpampang nyata poster “seminar kecantikan produk Korea, facial gratis, jerawat out!”. Mataku terperangah tak berkedap kedip membaca setiap detail isi poster. Tidak terlupakan, waktu dan tempat sudah ku simpan rapi-rapi didalam otak.
 “Aku harus ikut, pokoknya harus. Tidak ada yang bisa menghalangiku termasuk abang!” batinku bersemangat. Hanya dengan secarcik kata di poster, hilanglah kejengkelanku yang tadi pagi. Aku melenggang santai melewati koridor, menebar senyum tersembunyi ke sekitar menuju ke ruang kelas.
***
Hari yang dinanti tiba. Bertepatan dengan libur mingguan sekolah. Pagi sekali aku sudah berdandan rapi. Jerawat yang ditepuk abangku kian membengkak, bahkan sudah masuk fase bernanah.
facial, facial, goodbye jerawat!” suaraku bergembira. aku jingkrak-jingkrak kegirangan, mengendap melewati ruang keluarga yang sedang ramai. Ayah dan abangku sedang asyik bermain halma dan ibuku berisik dengan suara gossip pagi yang tidak pernah tertinggalkan.
Teman-teman seperjuanganku sudah menunggu depan pagar. Tanpa mengantongi ijin keluar rumah, aku melesat bagai angin, tak terdengar dan tak terlihat. Serta merta langsung mobil tumpangan ngebut menuju target.
Seminar dimulai. Sangat bersemangat aku mengikuti dan mencatat tips-tips agar berwajah kinclong ala bintang Korea. Mulai dari rajin minum air putih tiap hari, makan apel hijau setiap pagi, hindari makanan berlemak dan tentunya rajin-rajin menyambangi salon untuk berfacial ria.
“memang butuh perjuangan untuk mendapatkan wajah impian seperti Song Hae Kyeo” gumamku seraya mengelus-elus mukaku yang rada kasar.
Seminar usai, waktunya facial gratis. Semua peserta berhamburan, berebut ingin dipermak. Aku tidak mau kalah. Aksi beringasku keluar menembus pagar betis yang panitia pasang. Aku melupakan teman-temanku demi nomor urut terdepan. Usahaku tidak percuma, nomor 17 sekarang sudah ada di kantong. Aku tertawa nyengir melihat teman-teman senasibku berada di barisan paling bontot.
Satu persatu peserta bergiliran masuk sesuai nomor antrian. Jantungku  dag dig dug senang menunggu saat namaku akan dikumandangkan. Betisku yang sudah menjerit kesakitan tak terdengar oleh otakku untuk duduk istirahat.
“Alma salsabila!” panggil panitia lantang. Aku bergegas maju dengan suasana hati yang tak tergambar. Seorang perempuan 30 tahun-an menungguku dengan senyum merekah. Berbagai ramuan kecantikan merek x sudah tertata rapi di tempatnya. Gosipnya, asli didatangkan dari korea.
“silakan duduk mbak!, saya akan segera memulai perawatan mukanya” sapa perempuan itu sambil menunjukkan kursi khusus khas salon kecantikan.
Aku sok malu-malu, padahal dalam hatiku sudah tidak sabar menerawang hasilnya. Setelah duduk nyaman, aku sedikit melirik ke botol kemasaan itu, made in korea. Aku semakin sumringah. Akhirnya tercapai keinginanku yang membara. Bertampang mulus bagai porselin.
Layaknya percontohan kaum atas, menghabiskan jutaan rupiah untuk sekedar memoles muka. Aku duduk rileks, menikmati setiap inci pijatan dimukaku. Bisul yang menempel digosok-gosok sampai rata membuatku sedikit mengaduh. Tidak apa-apa bersakit-sakit dahulu pikirku. Jatah setengah jam membuatku ketagihan. Polesan terakhir, wajahku di semprot-semprot cairan bening seperti yang pernah aku saksikan di drama-drama korea. Entah cairan apa itu, namun sejuk menembus pori-pori parasku yang mulai bersinar.
Aku pulang berbunga-bunga seraya membayangkan tatapan silau mama, ayah, dan abangku. Di perjalanan menuju rumah, tiada henti aku berfoto di ponsel jadulku. Membandingkan sosok lamaku dengan figur baruku yang berkilau. Jendela metro mini tak pelak jadi tempat berkaca. Kalau diterka, mukaku jauh lebih jernih.
“senangnya, pasti aku akan menjadi pusat perhatian besok disekolah” seruku narsis, sekiranya melupakan kawan-kawanku yang teler masih menunggu antrian.
***
oh my god!” suara abangku melengking, membuatku terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Jarum wekerku tengah merangkak di angka empat, masih lumayan jauh dari bilangan lima lebih lima belas.
Aku meringsuk malas,  Merengek-rengek, menendang-nendang selimut dan boneka-boneka diatas kasur. Tidak rela terjaga di waktu sedini ini. Aku menatap abang nanar walau mataku berat untuk terbuka. Namun, rautnya terbilang aneh. Tidak tergelak maupun terkekeh seperti biasa. Dia terperangah dengan mulut menganga shock bagai bersua hantu suster ngesot. Aku jadi merinding, gusar melirik ke sekitar. Abangku mengarahkan telunjuknya ke wajah  koreaku kemudian terbirit-birit menghindar.
Aku mengangguk mengerti, senyumku melebar jumawa “abangku saja terpesona” batinku bergejolak. Kantukku tiba-tiba sirna, aku beranjak gemulai menuju meja rias.
“mama!” suaraku berdengking memenuhi rumah. Wajahku membengkak merah, seperti terserang lebah. Aku meraba-raba muka impianku yang berubah menjadi boomerang. Terasa kesemutan yang cukup menyakitkan hati dan ragaku. Seketika lenyaplah  khayalanku menjadi gadis tenar di sekolah. Aku meraung-raung terisak. Abangku diam-diam kembali mendekat dan memelukku ikut prihatin.
Seminggu berlalu, bengkak tak kunjung menyingkir dari wajahku. Satu pekan pula aku terpaksa absen di sekolah. Kerjaanku uring-uringan meratapi nasibku yang sial. Teman-temanku menuntut akan datang membesukku, tapi bahkan bayangannya pun tak terlintas. Di satu sisi, aku bersyukur juga mereka membatalkan rencana paksaannya, mau disembunyikan dimana mukaku yang berantakan ini. Tapi di pihak lain, kemalangan menantiku. Pasti di kelas sudah beredar gossip tentangku yang tidak karuan.
“produk kecantikan itu perlu keserasian dengan kulit kita. Bisa saja ada gejala alergi, Walaupun itu buatan korea. Contohnya adik, mukanya sampai tembem begitu” jelas mamaku enteng seolah tidak ikut bersimpati.
“jangan  terlalu berambisi secantik artis-artis korea. Coba pikirkan, langit tropis dengan iklim empat musim. Tentu kulit kita pasti berbeda!. Be yourself, dek!, makanya kalau suka sesuatu jangan sampai seekstrim begitu, yang biasa-biasa sajalah…” kata abangku bijak memperingatkanku.
Aku merasa beruntung. Untuk pertama kalinya berterimakasih pada Tuhan dianugrahi kakak. Dibalik kejahilannya selama ini, abangku diam-diam melindungiku. Aku tersipu, pengaruh drama korea yang aku tonton setiap hari tanpa absen, begitu besar menempel disanubariku. Paras ayu Song Hae Kyeo merebak diotakku, membuatku lupa diri. Padahal Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan rupa. Seharusya aku bersyukur dikaruniai wajah tanpa cacat.
***
Kulit wajahku kembali seperti sedia kala. Aku sudah bertekad tidak akan tergiur lagi pada iklan produk kecantikan korea. Bahkan kiblat dramaku berubah ke Negara matahari terbit yang terkenal cantik alami.
Sampai di depan gerbang sekolah, gelaran tikar membentang. Tapi ternampak sepi, hanya tiga empat siswa yang mendekat. Kembali perasaan ingin tahuku menyeret untuk merapat. Namun aku berusaha menuruti kata hatiku yang masih berpaku pada tekad. Tapi ujung-ujungnya azamku terkalahkan. Perlahan namun pasti, kakiku meminta untuk ikut nimbrung. Sejengkal demi sejengkal langkahku bergerak dan tepat berdiam di depan tumpukan kosmetik bermerek terkenal yang sering tersiar di televisi.
Instingku mulai ngelantur dan diamini oleh mata dan tanganku untuk bergerak memilih dan memilah mana yang sekiranya sesuai dengan kulit khatulistiwaku. Aku tercekat, mata dan tanganku kompak, terkesima dengan botol berbandrol “KS III”, Brand bermutu made in japan. Bagai ada seseorang yang berbisik ditelingaku “jika kamu memakainya, kau akan secantik Kyoko Fukada”. Ragaku tersentak, tergurat senyum jahatku dan aku mengangguk pasti akan membelinya.



3 komentar:

  1. kambuhan. bener2 anak sekolahan yg labil....tapi yg tua juga banyak :))

    BalasHapus
  2. hahahaha....penyakit percaya diri menjangkit setiap orang dan tidak kenal usia,,unn....

    BalasHapus
  3. bagian orang tua dobrak pintu kamar anaknya, asli lebai banget...kebanyakan nonton sinetron sih ortunya tuh, hehe

    BalasHapus

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea