Rabu, 28 Mei 2014

AKU, INGGRIS, HARRY POTTER, dan J.K.ROWLING

Diposting oleh mongyimongyi di 10.33 2 komentar


Impian...
Rangkaian hasrat maha dahsyat...
Laksana sihir yang patuh pada mantra...
Alohomora... Alerte  Ascendare...
Sederet asa demi menanti sebuah kepastian...

***
Aku, Elma, seorang koleris yang sangat bersemangat membahasa hal-hal yang tabu ketimbang membicarakan gosip para selebriti yang mulai ngelantur dengan bahasa-bahasa ngawur. Kuliah semester awal di fakultas bahasa dan sastra Inggris. Tahun ini, sweet seventeen menghampiriku. Tapi, biasa saja, benar-benar tidak ada yang membuatku bergairah selain hadiah buku seri ketujuh Harry Potter berbahasa Inggris pemberian mamaku. Aku bukan gadis alay yang harus merayakan usia yang ke-17 kemudaian, uuuuuu.....aaaaa.... nampang tampil disalah satu program musik TV swasta. Kalau dipikir-pikir mengapa orang-orang begitu senang dengan bertambahnya umur? Bersyukurkah karena masih diberikan nafas untuk bertaubat? Atau berterimakasih atas kesempatan untuk bermaksiat? Padahal, dimoment itu, Allah dengan kerelaan-Nya akan mengurangi jatah hidup kita di dunia ini. 

Aku penyuka cerita fiktif nan misteri, terutama kisah-kisah sihir penuh intrik dan mistis. Ada sensasi getir yang berdesir di aliran darah, saat aku asyik membaca ribuan lembar buku bertuliskan imajinasi manusia tentang kekuatan-kekuatan, mahluk-mahluk aneh bin ajaib yang tidak nyata. Ya, akulah pecinta berat sosok Harry Potter, penyihir ciptaan J.K. Rowling. 

Well... Well... sekarang aku menanti kesempatan itu datang, berharap mendapatkan durian runtuh untuk bertemu sang idola, menapak tilas bagaimana figurnya bisa dibentuk oleh pikiran manusia yang terbatas. Mengandalkan perekonomian atau nama besar adalah sesuatu yang mustahil kalau melihat kenyataan bahwa aku tergolong masyarakat tanpa kelas, tanpa penghasilan dan tanpa kedudukan. Tapi, hanya ada satu cara membuat obsesiku menjadi kenyataan, menulis. Aku aktif membuat tulisan-tulisan, bisa dibilang karya-karya fiksiku banyak, namun ujung-ujungnya mereka tetap berakhir di ruang gelap dalam lemariku, entah karena rangkain kataku jelek, tidak layak muat, atau terlalu, terlalu bagus sampai-sampai tidak mungkin untuk dimuat. Tidak nampak secuilpun ketertarikan penerbit buku, media online ataupun juri-juri lomba untuk menayangkan sebaris kalimat dariku di wall website ataupun cuma di satu halaman buku mereka. Akan tetapi, aku tidak akan menyerah, selalu ada jalan menuju Roma. Suatu hari nanti, akan ada orang yang berkata padaku, “Welcome in England.

***
Harry Potter, tokoh fiktif karangan J.K. Rowling ini sedang menatapku garang, bagai melihat Voldemort dihadapannya. Aku berdiri, membalas tatapannya, tanpa gentar aku menantangnya, menduplikasi mantranya.

Expecto patronum ...” pekikku, melengking membahana ke seluruh sudut kamarku yang berukuran sempit. Kuarahkan tongkat kayu kewajahnya yang super duper cute seolah mengeluarkan sinar petronus untuk mengusir dementor.

Expelliarmus...” teriakku lagi. Tongkat sihir akasia-ku kembali menunjuk-nunjuk mukanya, menyerangnya dan melucuti tongkatnya. 

Vera verto... lanjutku histeris. Personanya tetap tidak berubah, entah menjadi seekor tikus atau apalah. Dia masih Harry Potter, penyihir  berdarah murni, sang penyihir sejati. 

Poster itu, ya, hanya selembar poster berukuran 30x60 cm di tembok, tempat melampiaskan obsesiku untuk berjumpa dengan sang pemeran utama. Gambar yang aku dapatkan dari sebuah majalah remaja, bonus untuk edisi spesial tahun lalu. Kegilaanku pada novel sekaligus filmnya, membawaku pada hayalan yang terlampau jauh. Kadang, saat aku menyendiri, pikiran yang diamini oleh ragaku akan langsung bergaya meniru jurus-jurus sihir, entah berperan sebagai Harry, Hermione, Ron, atau Jenny Weasley. Saat itu kulakukan, aku berasa seperti sedang di Inggris, di sekolah sihir bergengsi, Hogwarts. Betapa bahagianya, ketika secarcik foto Daniel Radcliffe itu, berpose dengan jubah kebesaran Gryffindor seraya mengancungkan tongkat sihirnya, terpampang megah diputih pembatas kamar,  bersanding dengan istana Buckingham dan menara big ben kebanggaan rakyat Inggris.

“Tunggu saja, aku akan datang menjamahmu!” jeritku, menonjok-nonjok gemas gambar bangunan lambang Britania Raya itu.

***
Siang hari, suasana kampus fakultas bahasa dan sastra terpantau lengang. Aku duduk seorang diri di kursi bawah pohon beringin depan gedung jurusan sastra inggris. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi di tengah terik yang menyengat, aku membaca khidmat lembar demi lembar buku tebal ditanganku. Harry Potter And The Deathly Hallows, novel pemberian mama, seri terakhir dari novel harry potter. Aku menampilkan berbagai mimik muka, menggambarkan ada ketegangan, drama,  dan misteri  dikisah itu. aku semakin larut dalam cerita yang tidak biasa itu.

“Deng... Deng... Deng...” Joana menyodorkan selebaran kertas di atas bukaan buku, menutupi halaman yang sedang kubaca.

Aku mengerling kemudian mengambil kertas dengan sedikit sebal karena Joana memotong konsentrasiku. Judul besar “England and wonderland” lomba menulis kisah fantasi tentang inggris dua puluh tahun mendatang, DL 31 Mei. Aku tergelitik, hasratku membuncah manakala melihat hadiahnya,  fans meeting with J.K. Rowling

“Keren!” seruku masih tertegun. Dalam hati aku berharap, ini adalah gerbang awal yang ternganga lebar untuk berjumpa pujaan impian. Tertuju pada sosok Rowling, dan lebih-lebih  aku membidik tokoh yang dengan setia menempel dikamarku, yang selalu legowo meladeni sihir-sihir tiruanku.

“Kamu harus ikut, El! Pokonya harus! Kamu tidak tahu, seberapa pengorbananku untuk mendapatkan selebaran ini? Aku bersusah payah menerobos kerumunan orang-orang di departemen LITBANG sekretariat. Lihat! Hak sepatuku sampai copot gini.” Tukas Joana panjang lebar membeberkan kronogi peristiwa yang dialaminya. Bibirnya yang pink bermuda manyun memandang sedih jinjit sepatu kesayanganya itu terlepas dari tempatnya melekat.

“Aduh... Aku jadi terharu atas perjuanganmu sobat. Tapi, sorry... akhir bulan ini, aku akan ke Rinjani di Lombok,” aku menguji kesabaran Joana, menunggu reaksinya, apakah akan menyerah atau mengamuk tetap memaksaku berpartisipasi.

“Huffff... Setidaknya kamu harus mengganti sepatuku, sekarang. Aku memang tidak yakin kalau kamu juga bakalan menang, tapi aku, sebagai sahabatmu bisa mendengarkan jeritan batinmu tentang asa yang lama terpendam untuk berada lebih dekat dengan idolamu itu. ya, meskipun bukan dia hadiahnya, tapi setidaknya bisa bertemu penulisnya, itukan lebih seru,” gerutu Joana seraya duduk sambil menunjuk-nunjuk gambar kartun Daniel di cover novel itu. 

Darrr... aku terperenyak, tidak menduga Joana mengerti diriku sedalam itu, suka menulis dan impianku duduk bersebelahan, berfoto, dan minta tanda tangan dengan pemeran Harry Potter. Sejumput asa yang jauh untuk anak indonesia seukuran aku. Aku merebut sepatu berhak patah ditanganya, melihatnya lagi sekilas, “Oke... Aku akan mempertimbangkannya. Terima kasih telah mengikhlaskan sepatu kesayanganmu ini. Suatu saat nanti, aku akan menukarnya dengan sesuatu yang tak akan terlupakan olehmu.” Ujarku sangat percaya diri, darimana datangnya keyakinanku yang berlebih tentang kesempatan ini. aku merangkul manja Joana, karibku selama sepuluh tahun, mengenal betul siapa aku.

***
Malamnya, aku membongkar file-file lamaku yang tersimpan rapi dalam lemari. Hasil print out karya-karya kecilku yang masih belum layak terbit. Aku memilahnya satu persatu. Dengan kesabaran, aku mencari satu judul. Seingatku, aku menulisnya di tahun 2000, menjelang usiaku yang kesepuluh. Saat pertama kali membaca novel pertama, Harry Potter And The Pilosopher Stone. Saat inspirasiku tentang inggris bermunculan diotaku. Aku menulis cerita singkat ketika big ben dibajak para alien. Mengubah kiblat waktu bumi, membuat kekacauan dibelahan dunia yang lain. Kemudian, stonehenge, situs megalitik terbesar dunia tiba-tiba bergelantungan, melayang-layang di udara, dikendalikan oleh kekuatan mantra yang luar biasa. Kisah penyihir alien yang kubuat sembarangan berbalut kutipan, “Alien pun adalah penyihir. Manusia juga penyihir. Lalu siapa aku?” Yah, inilah imajinasi anak ingusan, hasil pemikiran yang tidak ilmiah.

Aku tersenyum bisa menemukannya kembali. Aku merogohnya di tumpukan terakhir dari beberapa buntelan yang ada, gesit meniup sehampar debu-debu halus yang menempel di bagian depan tulisan sekitar lima halaman itu. aku mendekapnya senang, bagai bersua dengan kawan lama, menguak memori masa kecil, membaca secara teliti kata-kata yang membentuk paragraf demi paragraf itu. 

Aku mulai mengedit tulisan usang itu, menambahkan seluit kata-kata penambah makna dan mengurangi sederet baris yang tidak perlu. Sampai tengah malam, mata kupaksakan untuk melek dan otak kuperintahkan untuk berpikir lebih kreatif, menjalar kemungkinan rangkaian fantasi ini menjadi menarik.

“Selesai...” desahku bahagia. Cukup bangga dengan diriku yang sudah berusaha menyulap karya uzur menjadi sesuatu yang lebih fresh

“Ya Tuhan, jika ini memang yang Engkau takdirkan, ijinkan diriku dan temanku, Joana, menginjakkan kaki di tanah Britania. Bukankah, ini adalah kado yang sempurna pengganti high heels yang hilang?” doaku di sela pagi yang belum bersinar.

***
Satu bulan kemudian...

Negaranya ratu Elizabeth, begitu nama tenarnya. Tidak kusangka, aku memijakkan kakikku disini, saat ini bersama sahabat terbaikku. Sontak udara  dingin khas benua putih menyambut kedatangan kami, menerpa tubuh yang sedari lahir beradaptasi dengan iklim tropis. Aku mengencangkan mantelku yang tidak terlalu tebal, menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk mengusir hawa salju. Joana menggigil, tidak kuasa melawan dingin. Di bandara, kami terpaku, bingung bagai balita tersesat di keramaian. Mataku melirik ke kerumunan orang-orang yang sedang menunggu seseorang untuk dijemput. Di papan-papan itu tidak ada satu barispun nama kami tertulis.

“El, yang jemput mana?” tanya joana dengan suara yang sudah bergetar kedinginan. 

“Mungkin mereka telat kali,” ucapku seraya menoleh kesana kemari, sibuk mencari secarcik huruf atas nama kami. 

“Telat? Kok bisa? Emang orang Indonesia yang sering telat,” sindir Joana, sekarang dia menggandengku.

“Bule juga manusia. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Orang Indonesia juga tidak semuanya suka molor.” Timpalku.

“Ohhhh! Itu namamu, El... Jemputannya sudah datang!” Joana kegirangan, dia jingkrak-jingkrak melambai-lambaikan tangannya ke figur perempuan pirang yang tersenyum melihat kami mendekatinya. Aku tersenyum, mengeja sekali lagi sepotong papan itu, “Welcome in England, Elma Salsabila.” 

Akhirnya, hari itu datang juga. Hari dimana aku mendeklarasikan diri untuk menjelajah negeri ini. Ya, kawan, aku memenangi sayembara itu. Aku akan bertemu dengan pencipta sang penyihir fiktif, J.K.Rowling. Aku mengajak Joana, melaksanakan janji yang sudah terucap. Banyak agenda sudah kami rencanakan selama berdiam di negara persemakmuran ini. Buckingham Palace, Hampton Court Palace, Westminster Palace, London Eye, Menara Big Ben, Tower Bridge, Madame Tussauds, dan Kew Gardens, sederet tempat yang akan kami kunjungi. Khususnya Kew gardens, kebun botani nomer satu dunia, tempat impian Joana. Kecintaannya terhadap tanaman-tanaman, membuat Joana tidak henti-hentinya histeris membayangkan kalau dia akan memasuki wilayah itu dengan dikelilingi bunga-bunga indah. Kami tidak sabar akan menaiki London eye, menikmati panorama kota london dari ketinggian 135 meter yang berdiri gagah di tepi selatan sungai Themes

Namun, dalam buku catatanku, aku memiliki tempat khusus yang tidak akan mungkin terlewatkan. Oke, tempat-tempat indah yang aku sebutkan diatas adalah jajaran atas destinasi Inggris, tapi sebagai fanatik Harry Potter, aku sudah menyiapkan satu hari full untuk merapah jejak-jejak historis kota penyihir. Warner Bros Studios Leavesden Set Tour Hertfordshire, Harry Potter In Great Britain London dan Oxford, Kastil Alnwick, hogwarts school, serta yang paling membuatku berdebar-debar, aku akan menapaki setiap jengkal lokasi yang menjadi saksi bisu terlahirnya novel bersejarah itu, Edinburgh, Skotlandia, The Elevent House, kafe tempat Rowling menyusun draft untuk buku pertamanya. Ya, di kafe inilah, fans meeting akan digelar, seakan mengenang kembali awal bukunya tertulis.

Kami tiba dihotel, Citadines London Trafalgar Square Hotel. Kamar gratis yang cukup luas dengan jendela  menghadap hamparan kota. Indah sekali, london berbalut futuristik, kota kuno yang antik. Hari beranjak malam. Esok menuju ke Skotlandia, akan ada pertemuan dengan J.K.Rowling dan beberapa fans terpilih dari negara-negara lain. Kami bermalam mengusir capek, menanti besok yang lebih menyenangkan.

***
Pagi menyinsing. Liburan sesungguhnya dimulai, mimpi yang sekian lama terajut indah di hayalan, hari ini akan menjadi gelaran kenyataan yang tak akan terlupakan. Aku dan Joana berpisah di lobi hotel, kami memiliki tujuan masing-masing. Joana akan histeria dengan sederet kemegahan London, dan aku akan asyik menikmati keunikan Skotlandia.

Menaiki bus dengan rombongan peserta fans meeting, bersua dengan teman-teman yang memiliki kegemaran sama. Tiada henti kita bercengkrama, setelah perkenalan singkat pertanda basa basi pertemuan pertama.

Skotland, I’m comming...” teriakku membatin. Kami tiba, kini dihadapanku nyata, tegap berdiri bangunan sederhana namun penuh historis bagi kami, The Elevent House. Meski hanya pembaca setia, tapi kami merasakan jerih payah J.K.Rowling menumpahkan segala  kemampuannya untuk menghasilkan karya terbaiknya, di tempat ini.  Kami memasuki kafe itu dengan tertib, satu-satu duduk dikursi yang sudah disediakan. Aku tidak mau kalah, posisi terdepan harus kudapatkan. Aku ingin melototi Rowling selayaknya dia adalah jelmaan Harry Potter, walau keinginan terbesarku adalah didepanku sesungguhnya adalah Daniel Radcliffe

Pelaku utama pertunjukan muncul setelah beberap menit menanti. Sontak tepuk tangan membahan di ruang sesak itu. dengan anggunnya Rowling menempati singgasananya. Seorang ibu rumah tangga tulen dengan daya hayal sangat tinggi yang kini menjelma menjadi orang terkaya di Inggris.

Fans meeting berlangsung lancar. Pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut dipikiran kami selama ini terjawab sudah. Kami seakan lebih mengenal sosok Rowling secara lebih dekat. Tatap muka yang diakhiri dengan tanda tangan gratis. Walaupun berat, aku membawa semua koleksi novel Harry Potterku untuk dibubuhi coretan tangan Rowling. Hebohnya, aku mendapat pelukan nyonya penyihir. Setitik memori yang akan selalu terpatri dalam hidupu, dan memberiku inspirasi untuk terus berkarya meski akan berakhir di rak gelap lemariku.

“Seandainya Daniel juga ada disini, pasti hari ini akan sempurna.” Seruku dalam hati, masih menumpahkan hasrat terpendamku.

Setelah selesai acara di The Elevent House, kami serombongan diajak menjelajah sekolahnya para penyihir terpilih, hogwarts school.  Sekolah ini ternyata benar-benar ada, bukan rekayasa teknologi. Sebuah Kastil di Alnwick, Kastil tersebut adalah kediaman bangsawan Inggris yang masih tegak berdiri kokoh sejak abad ke-13 dan merupakan kastil  terbesar kedua yang ada di Inggris. Bangunan yang besar berdiri kokoh dengan gaya arsitekstur khas gothik Inggris kuno. Aku terkagum-kagum, tidak menyangka bisa menjamah bangunan ini. Aku menginjak rumput lapangan tempat Harry berlatih sapu terbang, aku memasuki perpustakaan bertumpuk koleksi buku-buku yang dibaca para penyihir. Dan kami dibolehkan menaiki menara tertinggi, sehingga dapat menikmati kastil megah itu.
Dua jam kami melihat semua sisi bangunan itu. saat melewati lorong keluar menuju pintu utama. Mendadak aku melihat bayangan masuk ruangan sebelah kanan. Aku terdiam, kemudian memisahkan diri dari rombongan. Rasa penasaran teramat besar untuk dihentikan oleh ketakutanku. Aku diam-diam menengok ruanga itu, ternyata ini adalah ruangan rahasia dalam film Harry Potter and the Chamber of Secrets. Aku berdecak mengawasi setiap sudut ruang. 

Oh My God...” desahku. Bayangan itu kini berdiri didepanku, melayang-layang. Herannya bulu kuduk-ku tidak berdiri,  malah aku menghayati suasana seram itu. Bayangan itu mengelilingi seraya tertawa. Aku membalas dengan senyuman termanisku, melambai-lambaikan tanganku tanda perjumpaan.

Hello, Harry...” ucapku pelan, sosok Daniel Radcliffe itu tiba-tiba terdiam. Badannya yang transparan sekarang menatapku garang, sama seperti pose di posterku lengkap dengan jubah dan tongkat sihirnya. Aku membalas tatapannya, tanpa takut. Dan “Bruggg....” Aku terkulai, pandanganku kabur, gelap.

***
Aku tersadar, menemukan diri tergolek di tempat tidur rumah sakit. Berbagai ekspresi wajah sekarang menatapku. Ada yang memandang kasihan, ada yang menggebu penasaran ingin mengintrogasiku tentang apa yang terjadi. Dan akau hanya tersenyum, bersyukur mereka menemukan, dan bahagia bisa bertemu Daniel Radcliffe meski itu adalah sebuah jin yang menampakan diri mirip seperti pemeran Harry Potter itu. 

“Impianku terwujud! Menginjakkan kaki di Inggris, berjumpa J.K.Rowling, dan bertemu Daniel Radcliffe.” Aku menjerit dengan bahasa Indonesia, membuat orang-orang di bangsal rumah sakit itu tertawa heran dengan kekonyolanku.

***
Aku balik ke london. Di hari terakhir kami di Inggris, aku dan Joana sepakat akan menaiki London eye. Diketinggian 135 meter kami menikmati kota London sembari berdekapan, terharu bahwa kini mimpi itu menjadi kenyataan.

-the end-
 








Selasa, 20 Mei 2014

Sigi menjemput Sigit bag. 4

Diposting oleh mongyimongyi di 10.26 2 komentar


penuli : Jang Yiq
Cerita singkat bag.3
Sigi sukses menjalani operasi pengangkatan kanker di lambungnya tanpa harus kemoterapi untuk membunuh sel-sel yang mungkin saja bisa menyebar kembali.  Kini, Kinan dan orang tuanya bisa bernapas lega, Sigi masih diberikan kesempatan kedua oleh Allah untuk menjadi insan yang lebih baik lagi.

Sigit menerima biodata keempat dari murrabinya. Seorang dokter yang pintar nan cantik bernama Yuli Evanti. Murrabi merekomendasikan akhwat terbaik menurutnya, meski usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Sigit. Kali ini, Sigit benar-benar mempertimbangkannya, walau Sigi sudah memenuhi relung hatinya. Sigit berusaha bersikap adil. Memperhitungkan akhwat yang sudah ada digenggamannya atau mengedepankan perasaannya yang mungkin hanya sesaat. Siapalah Sigi, Sigit pun belum mengenal gadis yang ditolongnya itu. 

***
Seminggu berlalu...

Sigit terduduk tenang, padahal sedang berdebar hebat. Tidak pernah dia bayangkan, hatinya akan segemuruh ini berhadapan dengan akhwat yang akhir-akhir ini dia pandang dari selembar foto saja. Ternyata, aslinya lebih cantik dan terkesan sangat matang. Yuli Evanti, begitu ayu nan anggun dengan sikap malu-malunya. 

“Ayo... Monggo dimulai ta’arufnya[1],” ucap murrabi Sigit yang diketahui bernama pak Salihuddin. Murrabi selaku jembatan penghubung dua insan ini mulai mengarahkan mereka ke pokok permasalahannya. 

Sigit masih terdiam, bingung harus mengawalinya darimana. Biasanya, berkenalan pasti akan tanya nama, alamat, pekerjaan, pendidikan. Semua itu, Sigit sudah mengetahuinya melalui biodata. 

“Boleh ana[2] yang bertanya duluan?” suara lembut nan syahdu itu terdengar. Yuli Evanti berinisiatif membuka percakapan. Dia mengangkat wajahnya dan berani beradu pandang dengan Sigit. Sigit salah tingkah mendadak disorot oleh dua mata sayup itu. Terpancar aura sangat kuat yang mungkin bisa menariknya masuk lebih dalam. Tapi inilah perkenalan, tidak boleh menghindar untuk mengetahui keperibadian satu sama lain. Cara yang paling islami demi secercah bahtera kehidupan bersama di masa mendatang. Sigit menyingkirkan rasa canggungnya. Dia menegapkan posisinya yang tidak pernah bengkok dari awal.

“Silakan, ukhti[3]...” jawab Sigit, mengatur nadanya agar terkesan berwibawa. Dia ingin terlihat sempurna di mata perempuan asing dihadapannya itu.

“Apakah antum siap menjadi imam ana?” tanya Yuli tegas, namun tidak menghilangkan kesan karismatiknya. Tidak ada sedikit kegentaran dalam dirinya. 

Sigit membaca, pasti ini bukan pertama atau kedua kalinya dia menghadapi situasi seperti ini, sangat berpengalaman batin Sigit. 

“Apakah anti juga siap menjadi pendamping ana? Layaknya Siti Khadijah yang setia disamping Rasullulah?” Sigit bertanya balik seolah akan menguji kecerdasaan akhwat yang bergelar dokter ini. 
“Jika antum menginginkan seseorang seperti Siti Khadijah, afwan[4] bukan ana orangnya. Istri Rasullulah adalah manusia yang namanya sudah terjamin masuk syurga. Ana perempuan biasa yang menginginkan seorang suami yang akan mengantarkan hamba pada keridhaan-Nya,” timpal Yuli mantap, terlontar lantang tanpa sedikit keraguan dengan jawaban itu.
Sigit terkesiap, akhwat ini sungguh membuatnya takjub. Kini, hatinya membenarkan apa yang dikatakan murrabinya, dia adalah akhwat terbaik yang ditawarkan untuknya. 

“Bagaimana, Git?” pak Salihuddin memecah kebisuan Sigit. Sigit melirik murrabinya yang penuh senyum kemenangan. Setelah beberapa biodata ditolak, hari ini Sigit dibuat tak berdaya menghindari akhwat yang mungkin Allah ciptakan untuknya. Akan tetapi, Sigit tidak mau menyerah terlalu dini, mengakui dan mengatakan “iya” terlalu cepat. Dia mau menggali lebih banyak lagi pengetahuan akhwat ini.
Sigit jangan main-main, kasihan akhwatnya itu...^-^

“Trrrriiiilllliiitt...Trrriiillliiittt...” bunyi ponsel butut Sigit memecah suasana. Sigit lupa untuk mensilentnya. Terpampang nama abi dilayar. Dia permisi buru-buru untuk mengangkat, karena abi tidak akan repot-repot menghubunginya kalau tidak dalam keadaan genting.

“Assalamu’alaikum, bi...” tukas Sigit agak resah. Pasti terjadi apa-apa yang membuat abinya kewalahan. 

“Andien jatuh dari tangga villa, Git. Sekarang abi sedang menuju rumah sakit. Ummi-mu pergi ngisi pengajian dan belum pulang. Kalau bisa, secepatnya kamu nyusul ke sini!” suara abi diseberang terdengar gusar. Abi menutup teleponnya, sepertinya dia sekarang  berada di atas mobil ambulance.

“Villa? Sekarang abi sedang di Bogor?” pekik Sigit kaget.

“Kapan abi dan ummi ke Bogor? Tadi pagi mereka tidak bilang apa-apa padaku,” Sigit berbicara pada dirinya sendiri.

Sigit menghampiri tempatnya duduk tadi. Dia terlihat lesu dengan mukanya yang memucat. “Afwan, ana mohon diri pamit. Tadi abi menelpon, ada sesuatu yang sangat mendesak dan ana harus segera menyusul abi. Sekali lagi, afwan.” Lirih Sigit, tanpa mendengar persetujuan murrabi dan Yuli, Sigit segera berlalu, lari tak melihat ke belakang lagi. Adik kesayangannya, satu-satunya, sekarang sedang kesakitan. Tubuh semungil itu sudah menanggung sakit yang teramat untuk anak seusianya.

Pak Salihuddin sepertinya paham apa yang lagi terjadi. Sigit tidak akan bertindak seperti itu kalau bukan tidak menyangkut keluarganya. Sedangkan Yuli, bengong menatap Sigit menjauh dan menghilang dari penglihatannya. Sangat tidak sopan, seseorang meninggalkan sebuah percakapan tanpa alasan yang jelas batin Yuli  kesal.

“Afwan, Nak. Bapak mengenal Sigit sangat baik. Dia tidak pernah bertindak sembarangan. Bapak mengira ada sesuatu yang harus dia selesaikan.” Terang murrabi Sigit dengan hati-hati. Dia mengerti, bagaimana perasaan seorang gadis yang ditinggal pergi di tengah perkenalan resmi. 

Yuli mengangguk pelan, memaklumi. Namun sesungguhnya tersirat kekecewaan mendalam, “Akankah ini penolakan lagi? Ya Allah, rasanya aku sudah menyukainya.” sungut Yuli dalam hatinya yang perih, berharap Sigit tidak masuk dalam daftar panjang nama ikhwan yang pernah mengabaikannya.

***
Sigi bersandar dipembaringan, masih di kamar rawat VIP-nya. Proses pemulihan masih berlangsung, dokter Fahri belum mengijinkannya meninggalkan rumah sakit. Semenjak bangun dari pingsannya, dua hari setelah pengangkatan kanker, Sunggingan senyum menghiasi bibirnya. Dia terus memperhatikan benda yang selalu nempel ditangannya. Buket bunga mawar yang sudah layu dan secarcik kartu nama bertuliskan Sigit Pratama. Kinan memberikannya sebagai kejutan saat dia membuka mata. Kinan menceritakan semua peristiwa yang terjadi, bagaimana paniknya Sigit dan membopongnya, memberikan kartu namanya, sampai menitipkan sebuket bunga yang membuat Sigi sangat tersanjung, berasa istimewa.
istimewa, katanya Cherrybelle..^0^

Kinan memperhatikan Sigi sesaat memasuki ruangan , dia baru kembali dari kampusnya, kuliah perdana setelah sekian hari setia menjaga Sigi. Kinan tersenyum-senyum melirik kartu nama di tangan kanan Sigi. Ingatannya melambung saat Sigit begitu panik dan menyodorkannya sepotong kertas mungil itu. Kinan sengaja tidak menghubungi Sigit dan memberitahukan kalau Sigi sudah membaik. Dia menaruh harap, suatu hari nanti Sigit-lah yang akan datang menjemput Sigi. Dan bunga mawar itu, meski akan mengering, nampak begitu indah di mata Sigi. Kemarin-kemarin, tante Dewi pernah akan membuangnya, karena sudah mulai kecoklatan dan tidak enak dipandang. Kinan bersusah payah mempertahankan mawar itu dipotnya, di meja kecil samping ranjang. Kinan berkilah, itu adalah sesuatu yang berharga untuk Sigi.

“Belum bosan juga melototin terus itu benda!” ejek Kinan semakin mendekat ke sisi Sigi. Dia memegang pipi Sigi yang berona merah. Salah tingkah, Sigi cekatan merengkuh Kinan, “Terima kasih atas hadiahnya,” bisik Sigi cekikikan. 

“Maksudnya? Itu bukan dari aku, lho!” Kinan mencubit lembut telinga Sigi, gereget melihat tingkah Sigi yang mulai kasmaran. Sigi menggeliat kegelian, daerah telinganya terlalu sensitif untuk di sentuh.
 
“Aduhhh...” erang Sigi mengaduh kesakitan sambil memegang lambungnya, karena bergerak banyak belum bisa di terima oleh perutnya yang terjahit.

“Maaf...” sungut Kinan terkesiap seraya menampakkan muka penuh sesal. Dia membelai rambut Sigi untuk menenangkan. Sigi terenyuh merasakan sentuhan kasih sayang sahabatnya itu. dia kembali memeluk Kinan tanpa menanggalkan buket dan kartu nama itu.
Manisnya persahabatan ini, semanis madu asli sumbawa, hehe... ^0^

***
Bangunan megah rumah sakit Harapan Bangsa menyambut kedatangan Sigit. Tergopoh-gopoh Sigit menyisir bangsal matahri bernomer 327, tempat Andien di rawat sekarang. Ruangan itu terletak di ujung lorong. Sebelum masuk, Sigit mengatur titme jantungnya, mengusir peluhnya, merapikan rambut, pakaian dan kacamatanya, seolah ingin menghadap seorang calon mertua. Dia mengetuk pelan daun pintu, dan membukanya penuh penghayatan sembari mengucapkan salam signyal seorang muslim. Sigit menjinjing kakinya pelan, menghadap abi yang sendirian meratap pilu tubuh kecil Andien yang terkapar lemah. Andien nampak bagai robot, mulutnya menganga dengan selang endotracheal yang memancang tegak ditengah rongga, kepalanya tertempel pengontrol fungsi otak, dan dadanya dipasang alat pemantau kerja jantung. 
sungguh ngeri...^0^

“Abi…” lirih Sigit memegang pundak ayahnya. Abi mengusap tangan Sigit dan memberikan isyarat untuk duduk disebelahnya. Air mata abi meleleh. Ini pertama kalinya abi menangis di depan Sigit, membuat hati Sigit getir. Sigit melihat sisi lain ayahnya. Seorang ayah yang selama ini tangguh menjelma menjadi rapuh. Ingin Sigit ikut memikul kegundahan abi, namun Sigit harus menjadi kayu yang kokoh sebagai penopang.

“Ini salah abi. Ummi sudah melarang  tapi abi yang ngotot bawa Andien ke sini. Seandainya abi mendengarkan ummi…,” abi menyeselai perbuatannya sendiri.

“Istgifar abi! Ini bukan salah siap-siapa, memang takdir Allah yang membuat hari ini menjadi seperti ini,” ujar Sigit membesarkan hati abinya. Sigit mengelus-elus punggung abi, berusaha menenangkannya.

“Oya, ummi-mu segera menyusul kesini.” Lanjut abi dengan suara parau. Sigit mengangguk mengerti. Ummi-nya tipikal pendakwah yang tidak akan segera meninggalkan majelis taklim selama acaranya belum kelar dari tanggung jawabnya, apapun yang terjadi.

***
Tengah malam, bayangan berkelebat di kantin sepi rumah sakit. Dengan sangat hati-hati sosok itu memasuki ruang gelap itu. langkahnya bak maling, melompat selangkah demi selangkah. Dia kemudian ngeloyor ke bagian dapur. Disana lampu dinyalakan, terang, tapi temaram terlihat dari lobi utama. 

Sigit yang sekiranya sedang duduk-duduk menikmati air mancur di samping meja resepsionis, terpancing curiga dengan aksi aneh itu. Dia mendekat ke tempat paling ramai di saat perut gemercing minta untuk di isi. Dia membuka pintu kaca transparan yang memang tidak pernah terkunci. Sigit menyelinap masuk, rasa penasarannya menumbuhkan keberanian untuk menangkap basah orang itu. Derap kakinya semakin mendekati ke sumber sinar. Perlahan-lahan Sigit mengintip di balik pintu yang masih menganga, terperangah. Ternyata perempuan berhijab sedang memasak sesuatu. Aroma harumnya menyerbak masuk indra penciuman sigit. Tergambar makanan itu, apapun itu, pasti akan enak tercicip lidah.

“kruuukkk...” Sigit memegang perutnya yang berbunyi, ternganga dengan suaranya yang mungkin bisa terdengar oleh akhwat itu. Prasangka untuk menyergap hilang seketika. Tidak mungkin dia maling yang akan mencuri makanan kantin ini. Seorang yang paham agama, tahu betul bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya merupakan dosa yang tidak sepele. Sigit pelan-pelan menjauhi tempat itu. Saat langkahnya baru beberapa jarak dari pintu, seketika penerangan seluruh kantin bersinar, Sigit membatu, terpaku ditempat.

Stop!” suara itu terlalu lembut untuk membentak. Dia menodongkan benda tumpul di kepala Sigit. Tubuh Sigit kaku, nyalinya menciut. Dia mengangkat tangan tanda bendera putih berkibar. 

“Berlutut!” perintahnya lagi, sekarang ucapannya semakin tegas meski tersirat getaran takut. Benda tumpul itu berpindah menekam di bagian leher. Sigit menekuk lututnya, patuh dengan bentakan itu. Situasi bisa berbahaya jika bertingkah gegabah. Akhwat itu, berjalan maju, kini tepat berdiri di depan Sigit. Betapa terkagetnya, Sigit dan akhwat itu terperanjat menatap satu sama lain. 

Anti!” Sigit mendecak, tidak menyangka akhwat itu adalah perempuan yang menjerit minta tolong di depan kamar mandi wanita, di masjid, dulu.

“Ustadz Sigit!” pekik Kinan tak kalah terperangah. Dia serta merta melepaskan benda tumpul itu dari tangannya, menunduk melihat sendok nasi kayu itu tergeletak di lantai.

Af...wan.” Lanjut Kinan terbata-bata. Dia masih tidak percaya, segitu cepatnya Allah mengabulkan permintaannya. Kini, disini, Sigit datang, entah dia hadir dalam rangka apa, Kinan tidak peduli. Yang pasti, Sigit berada di rumah sakit ini, tempat Sigi dirawat.

“Ya Allah, apakah ini bagian dari sekenario-Mu?” tanya Kinan di tengah relung batinnya yang bersorai senang.

Sigit tersenyum simpul, tidak pernah membayangkan dia akan bersua lagi dengan akhwat ini. Ada seulas asa yang bercokol di palung hatinya yang terdalam, sebatas takdir perjumpaan kembali dengan akhwat yang sekiranya belum lama ini mengusik hidupnya. 

Kinan berdiri, kemudian beranjak pergi meninggalkan Sigit yang tetap berlutut, bengong, bingung tak sanggup berujar.

“Ya Allah, inikah petunjuk-Mu?” lubuk hati Sigit menderu. Ternyata harapan itu masih ada, walau hanya sekilas. 

***
Semangkuk bubur kacang ijo tersaji di hadapan Sigi. semuringah, Sigi mulai menyantapnya lahap. Sesendok demi sesendok dia kunyah penuh nikmat, enak sekali. Ditengah malam begini, Sigi sangat ingin memakan makanan itu. seperti orang ngidam yang berhasrat makan durian di musim kelengkeng, harus dipenuhi saat itu juga. Demi kesembuhan sohibnya, mau tidak mau, Kinan harus meminta ijin koki kepala untuk meminjamkan dapurnya barang malam ini saja. Alhasil, kendatipun seadanya, Sigi sangat menyukai bubur buatan Kinan. 

Kinan girang memperhatikan Sigi melahap semangkuk bubur kacang ijo itu sampai benar-benar habis. Dia mengambil mangkuk dan sendok itu dari tangan Sigi. Sigi mengerling, curiga, di tengah malam begini, Kinan masih terlihat segar bugar. 

“Terima kasih buburnya,” tukas Sigi manja. Kinan tertawa, gigi rapat putihnya tersibak, membuat Sigi semakin mengendus ada sesuatu yang tidak beres dengan sentimental ini.

“Sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan olehku? Jangan-jangan…” Sigi mulai melemparkan umpannya, menunjuk muka Kinan yang mulai memerah menahan tawanya. Sigi memasang Raut kecurigaan matang-matang, sasaran terkunci, tidak boleh terlepas. 

Kinan menciut memandang tatapan Sigi. Rasa tidak enak hatinya timbul, membuat Sigi penasaran, apalagi ini menyangkut diri Sigi sendiri. Sisi sentimental terlalu kuat melekat pada diri Kinan. Dia melemah, ingin membeberkan apa yang menimpanya tadi di dapur. Namun, Kali ini Kinan akan sedikit melawan dirinya, tetap kukuh tidak akan menceritakan kejadian tadi.

“Kalau Sigi tahu, tadi aku bertemu dengan ustadz Sigit, pasti, pasti, dia akan merengek untuk dipertemukan. Tidak… tidak… tidak… Sigi tidak boleh tahu kejadian malam ini. Tapi, kasihan Sigi, kerinduannya sudah teramat besar untuk di bendung. Tapi, ini tidak boleh. Biarkan jodoh yang mempertemukan mereka kembali dalam ikatan yang halal.” Pikiran Kinan bergejolak. Biarlah terjadi perang dalam batinnya, biarlah Sigi merasakan kecewa untuk saat ini, biarlah hanya Allah yang menjalankan sekenario-Nya dengan sempurna. 

***
Pagi hari, cerah dan hangat. Mentari serasa bersahabat sebelum siang menyinsing. Sigi menapaki taman atap rumah sakit. Taman yang di desain khusus untuk terapi pasien. Berjejeran bunga mawar dan krisan yang mewangi. Evorbia juga tumbuh di sudut-sudut petak. Rumput-rumput menjalar di tepian paping-paping. Di tengah terdapat kolam penuh ikan koi dengan air gemercik. Pohon cemara berdaun jarum tegap kokoh disamping kolam. Di bawah cemara, kursi kayu gantung, manis diperpaduannya. Taman itu masih sepi meski ini adalah spot yang paling tepat untuk menikmati jingga yang keluar dari peraduannnya. Sigi duduk santai menghirup udara yang sangat segar, membiarkan sinar menerpa wajahnya yang menirus. Kerudungnya terkibas angin sepoi. Dia mengencangkan sweternya, dingin. Tubuhnya yang masih kaku sangat membutuhkan hawa senja. Dokter Fahri menyarankan Sigi untuk melakukannya rutin tiap pagi, berjalan di bebatuan alam yang membentang mengelilingi taman.

Penantian adalah suatu ujian...
Tetapkanlah kuselalu dalam harapan...
Karena keimanan tak hanya diucapkan...
Adalah ketabahan menghadapi cobaan...

Bergema dari mulut Sigi, senandung bait nasyid dari grup vokal “Dans” yang diperkenalkan Kinan padanya, menyindir tanpa pengingkaran, menggambarkan penantiannya pada persona Sigit yang entah kapan akan berakhir. Kekagumannya saat pertama melihat bertransformasi menjadi bulir-bulir kasih di kalbu. Sigi merogoh sakunya, kartu nama itu kembali mengingat kenangan, menguak memori beberapa minggu lalu. Kian muncul hasrat untuk menghubungi nomer itu, tapi nasehat Kinan sudah terpatri diotaknya, “Biarkan pemilik tulang rusuk itu yang datang menjemput. Nikmatilah setiap detik penantian itu, seperti Fatimah yang diam-diam menunggu Ali tiba untuk melamarnya. Itulah cinta suci, cinta tanpa noda.” 

“Oh, bungaku!” Sigi tersadar, bunga mawar yang sudah tak putih lagi itu tertinggal dikamarnya. Tadi selesai tilawah, dia bersegera menuju taman, khawatir akan tertinggal sunrise. Dia bangkit dari duduknya, berjalan bermaksud mengambil bunga itu. Akan tetapi, mendadak langkahnya berhenti, Sigi terperenyak. Sigit ada dihadapannya, berdiri sembari menggendong seorang anak kecil, Andien. Sigit yang memang sudah hadir sedari tadi, tidak kalah terhenyak. Pertanyaannya yang tadi malam sangat cepat dijawab oleh Allah, surprise tak terduga. Peluh Sigit bercucuran di cuaca yang tak menyengat. Bagai tersambar petir di siang bolong, membuatnya membatu.

Tiba-tiba air mata Sigi menetes, terharu karena bertemu lagi, dan menangis karena tak disangka Sigit, laki-laki yang membuatnya takjub, sudah menjadi milik seseorang. Sigi merasa bodoh, menanti seseorang yang ternyata sudah tidak melajang. Sigi tidak mempertimbangkan, oh, mungkin itu adiknya, keponakannya, sepupunya, anak angkat atau anak orang lain. Kini yang ada dibenaknya dan membenarkan keyakinannya, Sigit sedang merangkul anak kandungnya sendiri, mirip sekali. Sigi berlari, menghindari Sigit yang masih mematung. Isakannya tertangkap telinga Sigit. Ingin sekali Sigit mengejar  dan bertanya, Sigi mengapa kamu menjauhiku? Ini aku, Sigit. Tidakkah kamu juga menanti kedatanganku sama sepertiku?. Sigit hanya memandang sampai sosok itu menghilang, tak kuasa mendekat apalagi untuk sekedar mengetahui isi hati Sigi. 

“Setidaknya aku sudah menemukanmu, Sigi.” desah Sigit, berbicara pada Andien yang menatapnya tersenyum. Kendatipun Andien tidak sepenuhnya mengerti, tapi seulas senyuman yang dia berikan untuk abangnya, bisa melegakan hati Sigit yang kalut. Sigit pun ikut tersenyum melihat sunggingan adiknya.

Bersambung...



[1] perkenalan
[2] saya
[3] Saudara perempuan (bahasa arab)
[4] Maaf
 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea