Rabu, 07 Mei 2014

Sigi menjemput Sigit bag.3

Diposkan oleh mongyimongyi di 09.39
Reaksi: 


penulis : Jang Yiq
Cerita singkat bag.2
Sigi di vonis mengidap kanker lambung, membuat tante Dewi dan om Adam terhenyak menerima kenyataan yang mendadak itu. Sedangkan Kinan belum mengetahui kondisi Sigi. Dia sudah cukup terguncang dengan keadaan Sigi yang masih belum siuman. Bahkan dokter Fahri pun tidak menduga  secepat itu maag kronis Sigi berubah menjadi benjeolan ganas.

Bayangan Sigi menghantui Sigit sepanjang hari. Persitiwa tak terkira di ahad pagi itu, membentuk Sigi dalam pikiran dan mimpinya, seolah memiliki tempat tersendiri. Sigi membawa Sigit pada satu rasa baru dalam hidupnya, rasa suka, meski sesungguhnya Sigit belum menyadari sepenuhnya. 

***
Rumah sakit Harapan bangsa, pukul 01.00 am

Sigi kembali berbaring di kamar rawat, setelah selesai dilakukan scanning pada tubuhnya. Kinan tak sejengkalpun meninggalkannya kecuali untuk sholat. Dia tetap setia menunggu Sigi sampai matanya akan terbuka. Dia terus memperhatikan muka Sigi yang tak berekspresi. “Ayo, bangun! Kumohon...” jerit Kinan dalam hatinya seraya membenamkan wajahnya ke kasur Sigi, akan memasuki dini hari, mata Kinan tampak tidak lelah dan mengantuk. Staminanya, seolah di cahrger full semenjak pagi, untuk membuatnya bertahan sampai Sigi mau bangkit dari mimpi buruknya.

Pintu kamar terbuka. Rupanya tante Dewi, Om Adam, dan dokter Fahri. Tampak mimik mereka tidak wajar. Tante Dewi terlihat masih di topang om Adam. Mereka kemudian duduk di sofa panjang di sudut kanan ruangan. Kamar rawat nan mewah ini, memang sangat besar. Dilengkapi berbagai macam perkakas. Sofa, kulkas penuh makanan, TV, AC, kamar mandi pribadi, bahkan tempat tidur khusus pengunjung. Kinan tidak menyadari kedatangan tante Dewi, Om Adam, dan dokter Fahri. Dia tetap menundukkan kepalanya di samping badan Sigi.  
Pantas saja Kinan tidak berkutik...dia tertidur. Baterainya lobet…^0^

“Kalau, Sigi belum juga siuman, besok kita akan melakukan operasinya,” ujar dokter Fahri meyakinkan orangtua Sigi. 

“Ini, tidak bisa ditunda lagi. Aku minta persetujuan kalian.” lanjut dokter Fahri menyodorkan formulir persetujuan wali. Om Adam menandatangani surat itu, tanpa membacanya kembali, karena sudah sangat percaya pada dokter Fahri yang merupakan sahabatnya selama puluhan tahun. Om Adam tahu, Sigi sudah dianggap anaknya sendiri oleh dokter Fahri. Pasti dia akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Sigi. Tante Dewi Cuma mampu mengangguk-ngangguk sepakat dengan suaminya. Pita suaranya sudah berantakan untuk bisa menghasilkan bunyi. 

Dokter Fahri pamit. Dirasa seluruhnya sudah menemukan titik sepakat. “Semuanya akan  baik-baik saja. Jadi, tolong jangan khawatir!” harap dokter Fahri sebelum keluar dari ruangan itu. Sepertinya tante Dewi agak tenang dengan seruan itu. Dia mengusap-usap matanya yang sembap sembari menghampiri Kinan yang mendengkur. Om Adam, mohon diri pulang mengambil barang-barang Sigi yang diperlukan selama di rumah sakit. Sedangkan adik Sigi, di jaga baby sitter

“Nan...” suara lembut tante Dewi, dan sedikit sentuhan di pundak membuat Kinan tersentak. 

“Tante, bagaimana hasil pemeriksaannya?” Kinan serta merta menanyakan kegundahannya selama beberapa jam ini.

“Besok, Sigi akan di operasi,” lirih tante Dewi. 

“Operasi? Tante, sebenarnya Sigi sakit apa?” mata Kinan mulai berkaca-kaca, ditahannya untuk tidak tumpah. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk menimpa Sigi.

“Sigi, kanker lambung. Maag kronisnya memicu daging tumbuh pada alat pencernaanya. Itu, harus segera diangkat, Nan...” tante Dewi dengan hati-hati menjelaskannya. Dia cemas Kinan akan semakin terpuruk. 

“Aku percaya, Sigi bisa melewati cobaan ini, tante. Allah tidak akan membebani hambaNya melamapui batas kemampuannya.” tukas Kinan. Dia melanjutkan sekenario ketergarannya di depan mama Sigi. Sementara itu, hati kecilnya terdengar gaduh dengan jeritan tangisnya.

“Kamu jangan seperti Sigi, ya...Jaga kesehatan, atur pola makan, dan rajin-rajin berolahraga. Kamu sudah makan? Tante lapar...” cakap tante Dewi sambil beranjak mengambil makanan di dalam kulkas. Dia mengeluarkan sejumlah roti, biskuit, buah-buahan dan sebotol susu segar. Kinan, lekas menyerobot makanan di tangan tante Dewi yang kewalahan memegang semuanya. Bersemangat Kinan memakan santapan itu untuk membesarkan hati tante Dewi. Tante Dewi puas memperhatikan nafsu makan Kinan yang tidak berkurang kendati tertekan.

“Tante, boleh saya menginap malam ini? Saya mau berada disamping Sigi sampai dia terjaga. Tante, tenang saja, saya akan minta ijin pihak kampus, dan juga saya sudah memberitahu mama, pleasemohon Kinan di sela-sela makannya. Dia memasang muka memelas seraya menguncupkan kedua tangannya. Tante Dewi mesam-mesem geli setelah seharian ini diselubungi kesedihan. 
Ehh…Kinan bisa membuat sedikit sunggingan senyum di bibir tante Dewi. Hebat….kalah Sule. Tepuk tangan dong, buat Kinan!.

Kinan dan Sigi adalah dua sejoli yang sangat merekat. Bak di tempel lem Altekong, susah sekali untuk dipisahkan. Mereka berkarib sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. Bisa dibilang tidak terpisahkan sampai perguruan tinggi. Tumbuh bersama, dan memiliki banyak kesamaan. Hobi traveling, makanan favorite “Tahu Tek-Tek”, film kesukaan “Home Alone”, mereka berdua tidak berbeda. Namun prinsip dan penampilan jauh dari kata serupa. Tatkala memasuki kuliah, Kinan memilih menjadi pejuang dakwah kemudian menutup aurat, sedangkan Sigi memutuskan untuk menjadi anak media reportase yang tetap stylish dan gaul. Kendati berbeda jalur, tetap saja mereka bagai anak kembar siam. Selagi Kinan sibuk dengan agenda syuro[1] dan berbagai kegiataan religi, Sigi tidak pernah risih untuk meliput jalannya acara Kinan, lamun dipaksa mengenakan hijab ala-ala tengkorak. Bayangkan hijab yang hanya menutup kepala dan leher itu!. begitupun juga, momen Sigi untuk meliput banyak berita sebagai sebaris kata dan sepenggal kalimat di majalah kampus, Kinan senantiasa menolong biarpun sekadar sebagai editor kacang-kacangan. Semakin beranjak dewasa, tidak terhitung berapa banyak perselisihan yang terjadi. Mulai dari kesalahpahaman sampai perbedaan pendapat. Tapi acap kali berhasil mencapai kata sepakat. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, selama rasa empati itu masih menepel di jiwa dan raga. Namun satu hal yang tidak akan mereka perdebatkan, tipe suami ideal. Kinan, jelas akan berkiblat pada para ustadz hanif, maka Sigi sudah tentu akan condong ke para pria macho berwajah rupawan. Dan inilah persahabatan. Berbeda tapi tetap satu.  
Sahabat adalah seseorang yang ada di kala kau terjatuh dan hadir di setiap kau berbahagia. Sahabat adalah orang yang mampu mendengarkan lagu di dalam hatimu, dan ikut menyanyikan lagi saat kau lupa liriknya, Katanya Rons Imawan dalam bukunya “The fabulous Udin” , Mantap !!. selamat hari persahabatan!!! Emang ada? ^0^

***
Besok hari, Senin,  pukul 08.00 am

Sigi tetap memejamkan matanya. Tim dokter yang dipimpin dokter Fahri sudah siap akan melakukan operasi. Kembali Sigi harus dipindahkan dari kamar rawatnya. Sejumlah perawat mendorong ranjang Sigi untuk ditempatkan di ruang operasi. Kinan, tante Dewi, dan om Adam, harap-harap cemas mengikuti Sigi yang akan memasuki ruangan yang entah, tidak ada yang tahu, dia akan keluar dengan selamat atau hanya tinggal nama. 

“Kami minta doanya, semoga operasi ini berjalan lancar. Kami akan berusaha maksimal,” ucap dokter Fahri, sesaat sebelum memulai pembedahannya. Kinan, tante Dewi, dan Om Adam, menunggu di depan kamar maut itu. Kinan, duduk sayup, layaknya menunggu kedatangan mempelai pria. Dia lebih suka menyendiri, menunduk untuk menenangkan hatinya yang berkecamuk sembari terus berdoa tiada henti untu keselamatan soulmatenya itu. Tante Dewi dan om Adam saling berangkulan, bagai sepasang sahabat yang tegang menonton pertandingan bola.

Dua jam lewat, lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala terang. Tiada rasa jemu menghampiri Kinan dan orangtua Sigi. Raut Kinan makin resah, terlalu lama menurutnya, cuma mengangkat sekutil kanker. Dia mulai mondar-mandir. Giliran tante Dewi, yang sudah mulai bisa mengontrol tangisnya, mendekati Kinan untuk menenangkannya. Memeluk Kinan yang masih memasakan diri untuk tegar. Di saat emosi mereka tidak menentu, lampu yang selalu dinanti kepadamannya, akhirnya menurut. Lampu merah itu redup. Dan lima menit kemudian, sosok dokter Fahri muncul dari balik pintu. Dengan gagahnya, dan senyuman merekah cukup sebagai penanda kalau pembedahannya berhasil. Kinan melelehkan air matanya yang selama ini disuruhnya membeku. Dia serta merta sujud syukur layaknya Evan Dimans dan kawan-kawan yang baru saja menjebol gawang lawan. Jebretttt!. Tante dewi dan om Adam merangkul bahagia dokter Fahri, sohib mereka. Mereka menghembuskan napas lega. Sebahagia tatkala TIMNAS U-19 Indonesia menang telak melawan TIMANS U-19 Korea Selatan. 
Kenapa dokter Fahri tidak akting seperti di sinetron-sinetron? Pura-pura pampang muka sedih, manyun, geleng-geleng kepala, gagal menyelamatkan peran utama. Dan kemudian, jingkrak-jingkrak senang, berhasil membuat sang keluarga berdebar-debar. Atau tokoh utama beneran mati, Dan beberapa episode selanjutnya, muncul pemeran lain yang mirip tokoh utama atau kembaran tokoh utama yang berpisah sejak bayi karena penculikanhohoho  ^0^

“Alhamdullilah, kankernya berhasil diangkat, dan kabar baiknya, Sigi tidak perlu menjalankan kemoterapi, karena sel-sel kankernya belum sempat menyebar. Untung benjolan itu dideteksi dini dan segera dilakukan operasi,” terang dokter Fahri sumringah. Kinan, tante Dewi, dan om Adam mengangguk-ngangguk tak mampu bercakap-cakap.

“Kami tetap akan mengontrol kondisi Sigi, sampai benar-benar pulih.” Lanjut dokter Fahri yang juga turut berbahagia.

Pagi itu, seakan semua beban terangkat. Ringan sekali perasaan mereka bertiga, sekarang. Tiada henti ucapan syukur mereka panjatkan. Sekarang sunggingan senyum tertulus itu kembali menghampiri bibir kinan setelah seharian kemarin, Kinan harus bersandiwara dengan senyuman palsu. 

“Terima kasih, ya…Allah…atas kesempatan kedua-Mu.” lirih Kinan dalam batinnya yang ramai dengan sorak sorai kegembiraan.

***
Pukul 16.00 pm di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok

Hembusan angin, lembut menerpa raga mereka. Kesejukan terpancar dari jejeran pohon-pohon menghijau di tepian danau. Air danau yang tenang, bening, menambah keelekon pemandangan asri masjid yang berada di tengah-tengah kampus itu. Sholat ashar berjamaah telah usai. Wajah-wajah berseri para jemaah meninggalkan masjid dengan tenang, dan ada yang memilih berdiam untuk sekadar istirahat sembari membaca buku atau kegiatan berguna lainnya. Sekawanan laki-laki bercelana di atas mata kaki tampak membentuk lingkaran di selasar masjid. Tepatnya enam orang sedang bersiap-siap akan memulai kajian rutin mereka setiap sekali seminggu. Terlihat Sigit hadir di tengah-tengah liqo’[2] itu. mereka barang waktu mengadakan pertemuan di rumah Allah itu. Murrabi mereka yang merupakan dosen bergelar profesor di UI, sering menganjurkan tempat itu.  
Memang tempatnya asyik, Coiii…Seandainya di tepian danau ini bukan masjid, mungkin sudah jadi tempat favorit kencan para mahasiswa-mahasiswi

Sembari menunggu kedatangan murrabi[3], acap kali celetukan-celetukan mewarnai ukhuwah[4] ini.
“Git, gimana acara ODOJ-nya, kemarin?” Fendi membuka pembicaraan. Anggota tertua sekaligus mas’ul[5] ini, memang selalu perhatian dengan kegiatan-kegiatan adik-adiknya, seolah dia juga melakukan evaluasi ruhiyah anggotanya. 
Memang harus begitu tugas seorang ketua!.
 
“Alhamdullilah, lancar, bang…” jawab Sigit mantap. Halaqoh[6] ini sangat berasa kekeluargaan. Tidak ada yang memanggil akhi[7] maupun antum[8]. Mereka membawa tata krama persaudaraan. Yang lebih tua dipanggil abang, yang muda cukup sebut nama atau ada embel-embel “dek…”.

“Bagaimana akhwat-akhwat di Bogor? Tidak adakah yang membuat hatimu kecantol?” Fahmi mulai usil. Maknae[9] ini suka menggodai abang-abangnya, terutama Sigit yang masih belum mendapatkan tambatan jiwa. Walaupun Fahmi paling muda di kelompok itu, tapi Fahmi lebih berani melepas masa lajangnya sejak setahun lalu. 

Sigit mesem-mesem, berusaha menutupi hatinya yang sedang gundah gulana. Sebenarnya, ingin sekali dia memuntahkan semua apa yang ada dibenaknya, tapi ini belum waktunya untuk menceritakan keadaan yang sedang menimpa dirinya. 

“Kalau sudah ada, pasti ana bagi-bagi ceritanya.” tukas Sigit bernada canda, sengaja untuk membuang curiga, bahwa memang tidak dapat dipungkiri kalau hatinya sekarang sedang berwarna warni bagai pelangi di siang hari.
Hahahaha…^0^

Fendi, Fahmi dan ketiga kawan lainnya terbahak-bahak, tidak bisa dikelabui. Semuanya sudah berpengalaman kecuali Sigit. Sangat tahu kalau Sigit sedang bergejolak. Mereka tidak mendesak Sigit untuk mencurahkannya hari ini, mereka akan sabar dan sabar menunggu, sampai tabir itu terungkap dengan sendirinya.
Mata adalah cermin hati. Benar enggak sih? ^0^

Sigit menciut, lagi merasa kerdil di hadapan teman-temannya, setelah kemarin disudutkan oleh kedua orangtuanya. Untung murrabi datang, memecahkan keriuhan. Menyelamatkan Sigit dari keterperosokan olokan yang makin dalam. Murrabi yang telah dianggap sebagai ayah kedua bagi Sigit dan teman-temannya. Beliau tidak hanya memposisikan dirinya sebagai guru. Sifat kebapakaannya membuat anak-anak binaannya merasa nyaman untuk curhat. Bahkan tidak jarang juga, beliau berperan menjadi teman, sebagai lawan bercanda dan bermain. Bersegera mereka terdiam, menyambut kedatangan sosok yang disegani. Agenda utama dimulai. Mengawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan Al quran, taujih[10] singkat, sirah nabawiyah, dan materi utama, berlangsung khidmat. Keseriusan ekspresi menyimak penyampian sang murrabi. Kegiatan liqo’ ini, sesuai kebiasaan akan diakhiri dengan sholat magrib berjamaah di masjid itu. Sesudah zikir, mereka berkumpul lagi untuk pamitan, saling merangkul ala “bromence : brother romance” saling mengikatkan kasih sayang diantara mereka. Kecuali Sigit yang berdiam di masjid. Tadi murrabi memberi isyarat lirikan untuk tetap tinggal. 

Selepas dirasa aman, mereka duduk bersila di dalam masjid. Murrabi mengeluarkan amplop coklat, dan Sigit sudah pasti paham maksud dan tujuan gurunya itu.

“Coba dipertimbangkan, Nak…” pinta murrabinya. Ini adalah biodata keempat yang diterima Sigit. Namun, ketiga yang lalu dia tolak, karena setelah melalui beberapa pertimbangan, Sigit merasa akhwat yang direkomendasikan pendidiknya itu tidak sesuai dengan apa yang dikriteriakan. Sigit menerimanya. Dia membuka pelan isi amplop itu didepan murrabinya. Terpampang foto full badan dan kertas yang bercoretkan biodata. Sigit membacanya sekilas, “Syukron. Ana akan istikharoh dulu, Pak…” Sigit memasukkan biodata itu keranselnya.

“Baiklah. Bapak akan menantikan jawabanmu. Akhwat ini, bapak menjaminnya, dia yang terbaik.” Tegas murrabi menepuk halus pundak Sigit. Sigit mengangguk, memberikan kepastian dengan pertimbangannya. Walau terjadi pertarungan batin, Sigit meski bersikap adil. Tidak ingin mengedepankan perasaan yang mungkin hanya sesaat, dan mengabaikan akhwat yang terbaik menurut murrabinya.
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui, (QS. Al-Baqarah :216)”^0^

Sigit membuka lagi biodata akhwat itu. Dia mencermati setiap detail yang tertulis di kertas itu. nama, dr. Yuli Evanti.  Bekerja sebagai dosen di fakultas  kedokteran UI. Usia 30, tiga tahun lebih tua dari Sigit. Itu bukan persoalan untuk Sigit, kriteria umur tidak masalah, dia lebih muda atau lebih tua dari dirinya. Kemudian, dia mengalihkan perhatiannya ke helaian foto 4R. Nampak anggun, cantik, dan tinggi berbalut sopan dan syar’i.

 “Pintar, pula. Tidakkah dia terlalu sempurna untuku?” Sigit berdecak kagum, takjub walau sekedar secarcik gambar. Sigit tertegun, tanpa diminta, Sigi, lagi, lagi, dan lagi ada dipikirannya. Gambarannya begitu nyata, senyata foto akhwat yang ada dihadapannya. Sigit terlena sejenak, namun segera sadar dan menepis bayangan yang tidak sepatutnya dikhayalkan. Seseorang yang tidak halal untuknya. Dia kesal pada dirinya yang tak mampu menahan nafsunya. Sigit menepuk-nepuk pipinya sendiri supaya tersadar, “Asstagfirullah...Asstagfirullah...Asstagfirullah...” gumamnya menyesal. Dia kembali pada akal sehatnya, memandangi foto akhwat itu lagi lekat-lekat. Sigit menarik napas dan menghembuskannya, memejamkan mata, mensingkronkan pikiran dah hatinya agar tertuju pada gambar akhwat yang ada didepannya. 

“Baiklah. Aku akan meminta petunjuk Allah.” Sigit memantapkan hatinya. Siapa tahu dialah bidadari yang benar-benar ditakdirkan untuknya.

Diseperempat malam, sigit sungguh melakukan istikharoh. Dia merendahkan diri, mengangkat kedua tangannya, menggunakan bahasa yang halus nan menyentuh, Sigit meminta Allah mencurahkan tanda-tandaNya.

“Ya Allah,  jika benar akhwat ini adalah yang Engkau pilihkan untukku, maka dekatkanlah dia kepada hamba. Berikanlah isyarat yang meyakinkanku, andaikata dia bakal calon istriku.” Sigit terus merengek di hadapan Allah, sampai malam yang diselimuti gelap, tersingkap menyambut datangnya subuh. 

Bersambung…



[1] rapat
[2] pertemuan
[3] Guru/ pendidik
[4] persaudaran
[5] ketua
[6] lingkaran
[7] Saudara laki-laki
[8] anda
[9] Bungsu (bahasa korea)
[10] pengarahan

0 komentar:

Poskan Komentar

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea