Selasa, 20 Mei 2014

Sigi menjemput Sigit bag. 4

Diposkan oleh mongyimongyi di 10.26
Reaksi: 


penuli : Jang Yiq
Cerita singkat bag.3
Sigi sukses menjalani operasi pengangkatan kanker di lambungnya tanpa harus kemoterapi untuk membunuh sel-sel yang mungkin saja bisa menyebar kembali.  Kini, Kinan dan orang tuanya bisa bernapas lega, Sigi masih diberikan kesempatan kedua oleh Allah untuk menjadi insan yang lebih baik lagi.

Sigit menerima biodata keempat dari murrabinya. Seorang dokter yang pintar nan cantik bernama Yuli Evanti. Murrabi merekomendasikan akhwat terbaik menurutnya, meski usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Sigit. Kali ini, Sigit benar-benar mempertimbangkannya, walau Sigi sudah memenuhi relung hatinya. Sigit berusaha bersikap adil. Memperhitungkan akhwat yang sudah ada digenggamannya atau mengedepankan perasaannya yang mungkin hanya sesaat. Siapalah Sigi, Sigit pun belum mengenal gadis yang ditolongnya itu. 

***
Seminggu berlalu...

Sigit terduduk tenang, padahal sedang berdebar hebat. Tidak pernah dia bayangkan, hatinya akan segemuruh ini berhadapan dengan akhwat yang akhir-akhir ini dia pandang dari selembar foto saja. Ternyata, aslinya lebih cantik dan terkesan sangat matang. Yuli Evanti, begitu ayu nan anggun dengan sikap malu-malunya. 

“Ayo... Monggo dimulai ta’arufnya[1],” ucap murrabi Sigit yang diketahui bernama pak Salihuddin. Murrabi selaku jembatan penghubung dua insan ini mulai mengarahkan mereka ke pokok permasalahannya. 

Sigit masih terdiam, bingung harus mengawalinya darimana. Biasanya, berkenalan pasti akan tanya nama, alamat, pekerjaan, pendidikan. Semua itu, Sigit sudah mengetahuinya melalui biodata. 

“Boleh ana[2] yang bertanya duluan?” suara lembut nan syahdu itu terdengar. Yuli Evanti berinisiatif membuka percakapan. Dia mengangkat wajahnya dan berani beradu pandang dengan Sigit. Sigit salah tingkah mendadak disorot oleh dua mata sayup itu. Terpancar aura sangat kuat yang mungkin bisa menariknya masuk lebih dalam. Tapi inilah perkenalan, tidak boleh menghindar untuk mengetahui keperibadian satu sama lain. Cara yang paling islami demi secercah bahtera kehidupan bersama di masa mendatang. Sigit menyingkirkan rasa canggungnya. Dia menegapkan posisinya yang tidak pernah bengkok dari awal.

“Silakan, ukhti[3]...” jawab Sigit, mengatur nadanya agar terkesan berwibawa. Dia ingin terlihat sempurna di mata perempuan asing dihadapannya itu.

“Apakah antum siap menjadi imam ana?” tanya Yuli tegas, namun tidak menghilangkan kesan karismatiknya. Tidak ada sedikit kegentaran dalam dirinya. 

Sigit membaca, pasti ini bukan pertama atau kedua kalinya dia menghadapi situasi seperti ini, sangat berpengalaman batin Sigit. 

“Apakah anti juga siap menjadi pendamping ana? Layaknya Siti Khadijah yang setia disamping Rasullulah?” Sigit bertanya balik seolah akan menguji kecerdasaan akhwat yang bergelar dokter ini. 
“Jika antum menginginkan seseorang seperti Siti Khadijah, afwan[4] bukan ana orangnya. Istri Rasullulah adalah manusia yang namanya sudah terjamin masuk syurga. Ana perempuan biasa yang menginginkan seorang suami yang akan mengantarkan hamba pada keridhaan-Nya,” timpal Yuli mantap, terlontar lantang tanpa sedikit keraguan dengan jawaban itu.
Sigit terkesiap, akhwat ini sungguh membuatnya takjub. Kini, hatinya membenarkan apa yang dikatakan murrabinya, dia adalah akhwat terbaik yang ditawarkan untuknya. 

“Bagaimana, Git?” pak Salihuddin memecah kebisuan Sigit. Sigit melirik murrabinya yang penuh senyum kemenangan. Setelah beberapa biodata ditolak, hari ini Sigit dibuat tak berdaya menghindari akhwat yang mungkin Allah ciptakan untuknya. Akan tetapi, Sigit tidak mau menyerah terlalu dini, mengakui dan mengatakan “iya” terlalu cepat. Dia mau menggali lebih banyak lagi pengetahuan akhwat ini.
Sigit jangan main-main, kasihan akhwatnya itu...^-^

“Trrrriiiilllliiitt...Trrriiillliiittt...” bunyi ponsel butut Sigit memecah suasana. Sigit lupa untuk mensilentnya. Terpampang nama abi dilayar. Dia permisi buru-buru untuk mengangkat, karena abi tidak akan repot-repot menghubunginya kalau tidak dalam keadaan genting.

“Assalamu’alaikum, bi...” tukas Sigit agak resah. Pasti terjadi apa-apa yang membuat abinya kewalahan. 

“Andien jatuh dari tangga villa, Git. Sekarang abi sedang menuju rumah sakit. Ummi-mu pergi ngisi pengajian dan belum pulang. Kalau bisa, secepatnya kamu nyusul ke sini!” suara abi diseberang terdengar gusar. Abi menutup teleponnya, sepertinya dia sekarang  berada di atas mobil ambulance.

“Villa? Sekarang abi sedang di Bogor?” pekik Sigit kaget.

“Kapan abi dan ummi ke Bogor? Tadi pagi mereka tidak bilang apa-apa padaku,” Sigit berbicara pada dirinya sendiri.

Sigit menghampiri tempatnya duduk tadi. Dia terlihat lesu dengan mukanya yang memucat. “Afwan, ana mohon diri pamit. Tadi abi menelpon, ada sesuatu yang sangat mendesak dan ana harus segera menyusul abi. Sekali lagi, afwan.” Lirih Sigit, tanpa mendengar persetujuan murrabi dan Yuli, Sigit segera berlalu, lari tak melihat ke belakang lagi. Adik kesayangannya, satu-satunya, sekarang sedang kesakitan. Tubuh semungil itu sudah menanggung sakit yang teramat untuk anak seusianya.

Pak Salihuddin sepertinya paham apa yang lagi terjadi. Sigit tidak akan bertindak seperti itu kalau bukan tidak menyangkut keluarganya. Sedangkan Yuli, bengong menatap Sigit menjauh dan menghilang dari penglihatannya. Sangat tidak sopan, seseorang meninggalkan sebuah percakapan tanpa alasan yang jelas batin Yuli  kesal.

“Afwan, Nak. Bapak mengenal Sigit sangat baik. Dia tidak pernah bertindak sembarangan. Bapak mengira ada sesuatu yang harus dia selesaikan.” Terang murrabi Sigit dengan hati-hati. Dia mengerti, bagaimana perasaan seorang gadis yang ditinggal pergi di tengah perkenalan resmi. 

Yuli mengangguk pelan, memaklumi. Namun sesungguhnya tersirat kekecewaan mendalam, “Akankah ini penolakan lagi? Ya Allah, rasanya aku sudah menyukainya.” sungut Yuli dalam hatinya yang perih, berharap Sigit tidak masuk dalam daftar panjang nama ikhwan yang pernah mengabaikannya.

***
Sigi bersandar dipembaringan, masih di kamar rawat VIP-nya. Proses pemulihan masih berlangsung, dokter Fahri belum mengijinkannya meninggalkan rumah sakit. Semenjak bangun dari pingsannya, dua hari setelah pengangkatan kanker, Sunggingan senyum menghiasi bibirnya. Dia terus memperhatikan benda yang selalu nempel ditangannya. Buket bunga mawar yang sudah layu dan secarcik kartu nama bertuliskan Sigit Pratama. Kinan memberikannya sebagai kejutan saat dia membuka mata. Kinan menceritakan semua peristiwa yang terjadi, bagaimana paniknya Sigit dan membopongnya, memberikan kartu namanya, sampai menitipkan sebuket bunga yang membuat Sigi sangat tersanjung, berasa istimewa.
istimewa, katanya Cherrybelle..^0^

Kinan memperhatikan Sigi sesaat memasuki ruangan , dia baru kembali dari kampusnya, kuliah perdana setelah sekian hari setia menjaga Sigi. Kinan tersenyum-senyum melirik kartu nama di tangan kanan Sigi. Ingatannya melambung saat Sigit begitu panik dan menyodorkannya sepotong kertas mungil itu. Kinan sengaja tidak menghubungi Sigit dan memberitahukan kalau Sigi sudah membaik. Dia menaruh harap, suatu hari nanti Sigit-lah yang akan datang menjemput Sigi. Dan bunga mawar itu, meski akan mengering, nampak begitu indah di mata Sigi. Kemarin-kemarin, tante Dewi pernah akan membuangnya, karena sudah mulai kecoklatan dan tidak enak dipandang. Kinan bersusah payah mempertahankan mawar itu dipotnya, di meja kecil samping ranjang. Kinan berkilah, itu adalah sesuatu yang berharga untuk Sigi.

“Belum bosan juga melototin terus itu benda!” ejek Kinan semakin mendekat ke sisi Sigi. Dia memegang pipi Sigi yang berona merah. Salah tingkah, Sigi cekatan merengkuh Kinan, “Terima kasih atas hadiahnya,” bisik Sigi cekikikan. 

“Maksudnya? Itu bukan dari aku, lho!” Kinan mencubit lembut telinga Sigi, gereget melihat tingkah Sigi yang mulai kasmaran. Sigi menggeliat kegelian, daerah telinganya terlalu sensitif untuk di sentuh.
 
“Aduhhh...” erang Sigi mengaduh kesakitan sambil memegang lambungnya, karena bergerak banyak belum bisa di terima oleh perutnya yang terjahit.

“Maaf...” sungut Kinan terkesiap seraya menampakkan muka penuh sesal. Dia membelai rambut Sigi untuk menenangkan. Sigi terenyuh merasakan sentuhan kasih sayang sahabatnya itu. dia kembali memeluk Kinan tanpa menanggalkan buket dan kartu nama itu.
Manisnya persahabatan ini, semanis madu asli sumbawa, hehe... ^0^

***
Bangunan megah rumah sakit Harapan Bangsa menyambut kedatangan Sigit. Tergopoh-gopoh Sigit menyisir bangsal matahri bernomer 327, tempat Andien di rawat sekarang. Ruangan itu terletak di ujung lorong. Sebelum masuk, Sigit mengatur titme jantungnya, mengusir peluhnya, merapikan rambut, pakaian dan kacamatanya, seolah ingin menghadap seorang calon mertua. Dia mengetuk pelan daun pintu, dan membukanya penuh penghayatan sembari mengucapkan salam signyal seorang muslim. Sigit menjinjing kakinya pelan, menghadap abi yang sendirian meratap pilu tubuh kecil Andien yang terkapar lemah. Andien nampak bagai robot, mulutnya menganga dengan selang endotracheal yang memancang tegak ditengah rongga, kepalanya tertempel pengontrol fungsi otak, dan dadanya dipasang alat pemantau kerja jantung. 
sungguh ngeri...^0^

“Abi…” lirih Sigit memegang pundak ayahnya. Abi mengusap tangan Sigit dan memberikan isyarat untuk duduk disebelahnya. Air mata abi meleleh. Ini pertama kalinya abi menangis di depan Sigit, membuat hati Sigit getir. Sigit melihat sisi lain ayahnya. Seorang ayah yang selama ini tangguh menjelma menjadi rapuh. Ingin Sigit ikut memikul kegundahan abi, namun Sigit harus menjadi kayu yang kokoh sebagai penopang.

“Ini salah abi. Ummi sudah melarang  tapi abi yang ngotot bawa Andien ke sini. Seandainya abi mendengarkan ummi…,” abi menyeselai perbuatannya sendiri.

“Istgifar abi! Ini bukan salah siap-siapa, memang takdir Allah yang membuat hari ini menjadi seperti ini,” ujar Sigit membesarkan hati abinya. Sigit mengelus-elus punggung abi, berusaha menenangkannya.

“Oya, ummi-mu segera menyusul kesini.” Lanjut abi dengan suara parau. Sigit mengangguk mengerti. Ummi-nya tipikal pendakwah yang tidak akan segera meninggalkan majelis taklim selama acaranya belum kelar dari tanggung jawabnya, apapun yang terjadi.

***
Tengah malam, bayangan berkelebat di kantin sepi rumah sakit. Dengan sangat hati-hati sosok itu memasuki ruang gelap itu. langkahnya bak maling, melompat selangkah demi selangkah. Dia kemudian ngeloyor ke bagian dapur. Disana lampu dinyalakan, terang, tapi temaram terlihat dari lobi utama. 

Sigit yang sekiranya sedang duduk-duduk menikmati air mancur di samping meja resepsionis, terpancing curiga dengan aksi aneh itu. Dia mendekat ke tempat paling ramai di saat perut gemercing minta untuk di isi. Dia membuka pintu kaca transparan yang memang tidak pernah terkunci. Sigit menyelinap masuk, rasa penasarannya menumbuhkan keberanian untuk menangkap basah orang itu. Derap kakinya semakin mendekati ke sumber sinar. Perlahan-lahan Sigit mengintip di balik pintu yang masih menganga, terperangah. Ternyata perempuan berhijab sedang memasak sesuatu. Aroma harumnya menyerbak masuk indra penciuman sigit. Tergambar makanan itu, apapun itu, pasti akan enak tercicip lidah.

“kruuukkk...” Sigit memegang perutnya yang berbunyi, ternganga dengan suaranya yang mungkin bisa terdengar oleh akhwat itu. Prasangka untuk menyergap hilang seketika. Tidak mungkin dia maling yang akan mencuri makanan kantin ini. Seorang yang paham agama, tahu betul bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya merupakan dosa yang tidak sepele. Sigit pelan-pelan menjauhi tempat itu. Saat langkahnya baru beberapa jarak dari pintu, seketika penerangan seluruh kantin bersinar, Sigit membatu, terpaku ditempat.

Stop!” suara itu terlalu lembut untuk membentak. Dia menodongkan benda tumpul di kepala Sigit. Tubuh Sigit kaku, nyalinya menciut. Dia mengangkat tangan tanda bendera putih berkibar. 

“Berlutut!” perintahnya lagi, sekarang ucapannya semakin tegas meski tersirat getaran takut. Benda tumpul itu berpindah menekam di bagian leher. Sigit menekuk lututnya, patuh dengan bentakan itu. Situasi bisa berbahaya jika bertingkah gegabah. Akhwat itu, berjalan maju, kini tepat berdiri di depan Sigit. Betapa terkagetnya, Sigit dan akhwat itu terperanjat menatap satu sama lain. 

Anti!” Sigit mendecak, tidak menyangka akhwat itu adalah perempuan yang menjerit minta tolong di depan kamar mandi wanita, di masjid, dulu.

“Ustadz Sigit!” pekik Kinan tak kalah terperangah. Dia serta merta melepaskan benda tumpul itu dari tangannya, menunduk melihat sendok nasi kayu itu tergeletak di lantai.

Af...wan.” Lanjut Kinan terbata-bata. Dia masih tidak percaya, segitu cepatnya Allah mengabulkan permintaannya. Kini, disini, Sigit datang, entah dia hadir dalam rangka apa, Kinan tidak peduli. Yang pasti, Sigit berada di rumah sakit ini, tempat Sigi dirawat.

“Ya Allah, apakah ini bagian dari sekenario-Mu?” tanya Kinan di tengah relung batinnya yang bersorai senang.

Sigit tersenyum simpul, tidak pernah membayangkan dia akan bersua lagi dengan akhwat ini. Ada seulas asa yang bercokol di palung hatinya yang terdalam, sebatas takdir perjumpaan kembali dengan akhwat yang sekiranya belum lama ini mengusik hidupnya. 

Kinan berdiri, kemudian beranjak pergi meninggalkan Sigit yang tetap berlutut, bengong, bingung tak sanggup berujar.

“Ya Allah, inikah petunjuk-Mu?” lubuk hati Sigit menderu. Ternyata harapan itu masih ada, walau hanya sekilas. 

***
Semangkuk bubur kacang ijo tersaji di hadapan Sigi. semuringah, Sigi mulai menyantapnya lahap. Sesendok demi sesendok dia kunyah penuh nikmat, enak sekali. Ditengah malam begini, Sigi sangat ingin memakan makanan itu. seperti orang ngidam yang berhasrat makan durian di musim kelengkeng, harus dipenuhi saat itu juga. Demi kesembuhan sohibnya, mau tidak mau, Kinan harus meminta ijin koki kepala untuk meminjamkan dapurnya barang malam ini saja. Alhasil, kendatipun seadanya, Sigi sangat menyukai bubur buatan Kinan. 

Kinan girang memperhatikan Sigi melahap semangkuk bubur kacang ijo itu sampai benar-benar habis. Dia mengambil mangkuk dan sendok itu dari tangan Sigi. Sigi mengerling, curiga, di tengah malam begini, Kinan masih terlihat segar bugar. 

“Terima kasih buburnya,” tukas Sigi manja. Kinan tertawa, gigi rapat putihnya tersibak, membuat Sigi semakin mengendus ada sesuatu yang tidak beres dengan sentimental ini.

“Sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan olehku? Jangan-jangan…” Sigi mulai melemparkan umpannya, menunjuk muka Kinan yang mulai memerah menahan tawanya. Sigi memasang Raut kecurigaan matang-matang, sasaran terkunci, tidak boleh terlepas. 

Kinan menciut memandang tatapan Sigi. Rasa tidak enak hatinya timbul, membuat Sigi penasaran, apalagi ini menyangkut diri Sigi sendiri. Sisi sentimental terlalu kuat melekat pada diri Kinan. Dia melemah, ingin membeberkan apa yang menimpanya tadi di dapur. Namun, Kali ini Kinan akan sedikit melawan dirinya, tetap kukuh tidak akan menceritakan kejadian tadi.

“Kalau Sigi tahu, tadi aku bertemu dengan ustadz Sigit, pasti, pasti, dia akan merengek untuk dipertemukan. Tidak… tidak… tidak… Sigi tidak boleh tahu kejadian malam ini. Tapi, kasihan Sigi, kerinduannya sudah teramat besar untuk di bendung. Tapi, ini tidak boleh. Biarkan jodoh yang mempertemukan mereka kembali dalam ikatan yang halal.” Pikiran Kinan bergejolak. Biarlah terjadi perang dalam batinnya, biarlah Sigi merasakan kecewa untuk saat ini, biarlah hanya Allah yang menjalankan sekenario-Nya dengan sempurna. 

***
Pagi hari, cerah dan hangat. Mentari serasa bersahabat sebelum siang menyinsing. Sigi menapaki taman atap rumah sakit. Taman yang di desain khusus untuk terapi pasien. Berjejeran bunga mawar dan krisan yang mewangi. Evorbia juga tumbuh di sudut-sudut petak. Rumput-rumput menjalar di tepian paping-paping. Di tengah terdapat kolam penuh ikan koi dengan air gemercik. Pohon cemara berdaun jarum tegap kokoh disamping kolam. Di bawah cemara, kursi kayu gantung, manis diperpaduannya. Taman itu masih sepi meski ini adalah spot yang paling tepat untuk menikmati jingga yang keluar dari peraduannnya. Sigi duduk santai menghirup udara yang sangat segar, membiarkan sinar menerpa wajahnya yang menirus. Kerudungnya terkibas angin sepoi. Dia mengencangkan sweternya, dingin. Tubuhnya yang masih kaku sangat membutuhkan hawa senja. Dokter Fahri menyarankan Sigi untuk melakukannya rutin tiap pagi, berjalan di bebatuan alam yang membentang mengelilingi taman.

Penantian adalah suatu ujian...
Tetapkanlah kuselalu dalam harapan...
Karena keimanan tak hanya diucapkan...
Adalah ketabahan menghadapi cobaan...

Bergema dari mulut Sigi, senandung bait nasyid dari grup vokal “Dans” yang diperkenalkan Kinan padanya, menyindir tanpa pengingkaran, menggambarkan penantiannya pada persona Sigit yang entah kapan akan berakhir. Kekagumannya saat pertama melihat bertransformasi menjadi bulir-bulir kasih di kalbu. Sigi merogoh sakunya, kartu nama itu kembali mengingat kenangan, menguak memori beberapa minggu lalu. Kian muncul hasrat untuk menghubungi nomer itu, tapi nasehat Kinan sudah terpatri diotaknya, “Biarkan pemilik tulang rusuk itu yang datang menjemput. Nikmatilah setiap detik penantian itu, seperti Fatimah yang diam-diam menunggu Ali tiba untuk melamarnya. Itulah cinta suci, cinta tanpa noda.” 

“Oh, bungaku!” Sigi tersadar, bunga mawar yang sudah tak putih lagi itu tertinggal dikamarnya. Tadi selesai tilawah, dia bersegera menuju taman, khawatir akan tertinggal sunrise. Dia bangkit dari duduknya, berjalan bermaksud mengambil bunga itu. Akan tetapi, mendadak langkahnya berhenti, Sigi terperenyak. Sigit ada dihadapannya, berdiri sembari menggendong seorang anak kecil, Andien. Sigit yang memang sudah hadir sedari tadi, tidak kalah terhenyak. Pertanyaannya yang tadi malam sangat cepat dijawab oleh Allah, surprise tak terduga. Peluh Sigit bercucuran di cuaca yang tak menyengat. Bagai tersambar petir di siang bolong, membuatnya membatu.

Tiba-tiba air mata Sigi menetes, terharu karena bertemu lagi, dan menangis karena tak disangka Sigit, laki-laki yang membuatnya takjub, sudah menjadi milik seseorang. Sigi merasa bodoh, menanti seseorang yang ternyata sudah tidak melajang. Sigi tidak mempertimbangkan, oh, mungkin itu adiknya, keponakannya, sepupunya, anak angkat atau anak orang lain. Kini yang ada dibenaknya dan membenarkan keyakinannya, Sigit sedang merangkul anak kandungnya sendiri, mirip sekali. Sigi berlari, menghindari Sigit yang masih mematung. Isakannya tertangkap telinga Sigit. Ingin sekali Sigit mengejar  dan bertanya, Sigi mengapa kamu menjauhiku? Ini aku, Sigit. Tidakkah kamu juga menanti kedatanganku sama sepertiku?. Sigit hanya memandang sampai sosok itu menghilang, tak kuasa mendekat apalagi untuk sekedar mengetahui isi hati Sigi. 

“Setidaknya aku sudah menemukanmu, Sigi.” desah Sigit, berbicara pada Andien yang menatapnya tersenyum. Kendatipun Andien tidak sepenuhnya mengerti, tapi seulas senyuman yang dia berikan untuk abangnya, bisa melegakan hati Sigit yang kalut. Sigit pun ikut tersenyum melihat sunggingan adiknya.

Bersambung...



[1] perkenalan
[2] saya
[3] Saudara perempuan (bahasa arab)
[4] Maaf

2 komentar:

  1. haduh...haduh haduh... :D lanjut lanjut Yiq..padahal gak semudah itu bikin cerbung

    BalasHapus
    Balasan
    1. sulit bingitz mbk ran...bikin cerpen aja pusing apalagi buat cerbung...tp tetap aja q coba...walau hasilnya seada-ada...

      oke mbk ran,,,,tinggal 2 bagian lagi....tangkyu udh jd pembaca setiaku....tp minggu ni mw fokus sm lomba blog itu mbk ran, kemungkinan lanjutan ini akan keluar 2 minggu lagi...please bersabarlah menunggu kelanjutannya...hehe

      Hapus

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea