Rabu, 28 Mei 2014

AKU, INGGRIS, HARRY POTTER, dan J.K.ROWLING

Diposkan oleh mongyimongyi di 10.33
Reaksi: 


Impian...
Rangkaian hasrat maha dahsyat...
Laksana sihir yang patuh pada mantra...
Alohomora... Alerte  Ascendare...
Sederet asa demi menanti sebuah kepastian...

***
Aku, Elma, seorang koleris yang sangat bersemangat membahasa hal-hal yang tabu ketimbang membicarakan gosip para selebriti yang mulai ngelantur dengan bahasa-bahasa ngawur. Kuliah semester awal di fakultas bahasa dan sastra Inggris. Tahun ini, sweet seventeen menghampiriku. Tapi, biasa saja, benar-benar tidak ada yang membuatku bergairah selain hadiah buku seri ketujuh Harry Potter berbahasa Inggris pemberian mamaku. Aku bukan gadis alay yang harus merayakan usia yang ke-17 kemudaian, uuuuuu.....aaaaa.... nampang tampil disalah satu program musik TV swasta. Kalau dipikir-pikir mengapa orang-orang begitu senang dengan bertambahnya umur? Bersyukurkah karena masih diberikan nafas untuk bertaubat? Atau berterimakasih atas kesempatan untuk bermaksiat? Padahal, dimoment itu, Allah dengan kerelaan-Nya akan mengurangi jatah hidup kita di dunia ini. 

Aku penyuka cerita fiktif nan misteri, terutama kisah-kisah sihir penuh intrik dan mistis. Ada sensasi getir yang berdesir di aliran darah, saat aku asyik membaca ribuan lembar buku bertuliskan imajinasi manusia tentang kekuatan-kekuatan, mahluk-mahluk aneh bin ajaib yang tidak nyata. Ya, akulah pecinta berat sosok Harry Potter, penyihir ciptaan J.K. Rowling. 

Well... Well... sekarang aku menanti kesempatan itu datang, berharap mendapatkan durian runtuh untuk bertemu sang idola, menapak tilas bagaimana figurnya bisa dibentuk oleh pikiran manusia yang terbatas. Mengandalkan perekonomian atau nama besar adalah sesuatu yang mustahil kalau melihat kenyataan bahwa aku tergolong masyarakat tanpa kelas, tanpa penghasilan dan tanpa kedudukan. Tapi, hanya ada satu cara membuat obsesiku menjadi kenyataan, menulis. Aku aktif membuat tulisan-tulisan, bisa dibilang karya-karya fiksiku banyak, namun ujung-ujungnya mereka tetap berakhir di ruang gelap dalam lemariku, entah karena rangkain kataku jelek, tidak layak muat, atau terlalu, terlalu bagus sampai-sampai tidak mungkin untuk dimuat. Tidak nampak secuilpun ketertarikan penerbit buku, media online ataupun juri-juri lomba untuk menayangkan sebaris kalimat dariku di wall website ataupun cuma di satu halaman buku mereka. Akan tetapi, aku tidak akan menyerah, selalu ada jalan menuju Roma. Suatu hari nanti, akan ada orang yang berkata padaku, “Welcome in England.

***
Harry Potter, tokoh fiktif karangan J.K. Rowling ini sedang menatapku garang, bagai melihat Voldemort dihadapannya. Aku berdiri, membalas tatapannya, tanpa gentar aku menantangnya, menduplikasi mantranya.

Expecto patronum ...” pekikku, melengking membahana ke seluruh sudut kamarku yang berukuran sempit. Kuarahkan tongkat kayu kewajahnya yang super duper cute seolah mengeluarkan sinar petronus untuk mengusir dementor.

Expelliarmus...” teriakku lagi. Tongkat sihir akasia-ku kembali menunjuk-nunjuk mukanya, menyerangnya dan melucuti tongkatnya. 

Vera verto... lanjutku histeris. Personanya tetap tidak berubah, entah menjadi seekor tikus atau apalah. Dia masih Harry Potter, penyihir  berdarah murni, sang penyihir sejati. 

Poster itu, ya, hanya selembar poster berukuran 30x60 cm di tembok, tempat melampiaskan obsesiku untuk berjumpa dengan sang pemeran utama. Gambar yang aku dapatkan dari sebuah majalah remaja, bonus untuk edisi spesial tahun lalu. Kegilaanku pada novel sekaligus filmnya, membawaku pada hayalan yang terlampau jauh. Kadang, saat aku menyendiri, pikiran yang diamini oleh ragaku akan langsung bergaya meniru jurus-jurus sihir, entah berperan sebagai Harry, Hermione, Ron, atau Jenny Weasley. Saat itu kulakukan, aku berasa seperti sedang di Inggris, di sekolah sihir bergengsi, Hogwarts. Betapa bahagianya, ketika secarcik foto Daniel Radcliffe itu, berpose dengan jubah kebesaran Gryffindor seraya mengancungkan tongkat sihirnya, terpampang megah diputih pembatas kamar,  bersanding dengan istana Buckingham dan menara big ben kebanggaan rakyat Inggris.

“Tunggu saja, aku akan datang menjamahmu!” jeritku, menonjok-nonjok gemas gambar bangunan lambang Britania Raya itu.

***
Siang hari, suasana kampus fakultas bahasa dan sastra terpantau lengang. Aku duduk seorang diri di kursi bawah pohon beringin depan gedung jurusan sastra inggris. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi di tengah terik yang menyengat, aku membaca khidmat lembar demi lembar buku tebal ditanganku. Harry Potter And The Deathly Hallows, novel pemberian mama, seri terakhir dari novel harry potter. Aku menampilkan berbagai mimik muka, menggambarkan ada ketegangan, drama,  dan misteri  dikisah itu. aku semakin larut dalam cerita yang tidak biasa itu.

“Deng... Deng... Deng...” Joana menyodorkan selebaran kertas di atas bukaan buku, menutupi halaman yang sedang kubaca.

Aku mengerling kemudian mengambil kertas dengan sedikit sebal karena Joana memotong konsentrasiku. Judul besar “England and wonderland” lomba menulis kisah fantasi tentang inggris dua puluh tahun mendatang, DL 31 Mei. Aku tergelitik, hasratku membuncah manakala melihat hadiahnya,  fans meeting with J.K. Rowling

“Keren!” seruku masih tertegun. Dalam hati aku berharap, ini adalah gerbang awal yang ternganga lebar untuk berjumpa pujaan impian. Tertuju pada sosok Rowling, dan lebih-lebih  aku membidik tokoh yang dengan setia menempel dikamarku, yang selalu legowo meladeni sihir-sihir tiruanku.

“Kamu harus ikut, El! Pokonya harus! Kamu tidak tahu, seberapa pengorbananku untuk mendapatkan selebaran ini? Aku bersusah payah menerobos kerumunan orang-orang di departemen LITBANG sekretariat. Lihat! Hak sepatuku sampai copot gini.” Tukas Joana panjang lebar membeberkan kronogi peristiwa yang dialaminya. Bibirnya yang pink bermuda manyun memandang sedih jinjit sepatu kesayanganya itu terlepas dari tempatnya melekat.

“Aduh... Aku jadi terharu atas perjuanganmu sobat. Tapi, sorry... akhir bulan ini, aku akan ke Rinjani di Lombok,” aku menguji kesabaran Joana, menunggu reaksinya, apakah akan menyerah atau mengamuk tetap memaksaku berpartisipasi.

“Huffff... Setidaknya kamu harus mengganti sepatuku, sekarang. Aku memang tidak yakin kalau kamu juga bakalan menang, tapi aku, sebagai sahabatmu bisa mendengarkan jeritan batinmu tentang asa yang lama terpendam untuk berada lebih dekat dengan idolamu itu. ya, meskipun bukan dia hadiahnya, tapi setidaknya bisa bertemu penulisnya, itukan lebih seru,” gerutu Joana seraya duduk sambil menunjuk-nunjuk gambar kartun Daniel di cover novel itu. 

Darrr... aku terperenyak, tidak menduga Joana mengerti diriku sedalam itu, suka menulis dan impianku duduk bersebelahan, berfoto, dan minta tanda tangan dengan pemeran Harry Potter. Sejumput asa yang jauh untuk anak indonesia seukuran aku. Aku merebut sepatu berhak patah ditanganya, melihatnya lagi sekilas, “Oke... Aku akan mempertimbangkannya. Terima kasih telah mengikhlaskan sepatu kesayanganmu ini. Suatu saat nanti, aku akan menukarnya dengan sesuatu yang tak akan terlupakan olehmu.” Ujarku sangat percaya diri, darimana datangnya keyakinanku yang berlebih tentang kesempatan ini. aku merangkul manja Joana, karibku selama sepuluh tahun, mengenal betul siapa aku.

***
Malamnya, aku membongkar file-file lamaku yang tersimpan rapi dalam lemari. Hasil print out karya-karya kecilku yang masih belum layak terbit. Aku memilahnya satu persatu. Dengan kesabaran, aku mencari satu judul. Seingatku, aku menulisnya di tahun 2000, menjelang usiaku yang kesepuluh. Saat pertama kali membaca novel pertama, Harry Potter And The Pilosopher Stone. Saat inspirasiku tentang inggris bermunculan diotaku. Aku menulis cerita singkat ketika big ben dibajak para alien. Mengubah kiblat waktu bumi, membuat kekacauan dibelahan dunia yang lain. Kemudian, stonehenge, situs megalitik terbesar dunia tiba-tiba bergelantungan, melayang-layang di udara, dikendalikan oleh kekuatan mantra yang luar biasa. Kisah penyihir alien yang kubuat sembarangan berbalut kutipan, “Alien pun adalah penyihir. Manusia juga penyihir. Lalu siapa aku?” Yah, inilah imajinasi anak ingusan, hasil pemikiran yang tidak ilmiah.

Aku tersenyum bisa menemukannya kembali. Aku merogohnya di tumpukan terakhir dari beberapa buntelan yang ada, gesit meniup sehampar debu-debu halus yang menempel di bagian depan tulisan sekitar lima halaman itu. aku mendekapnya senang, bagai bersua dengan kawan lama, menguak memori masa kecil, membaca secara teliti kata-kata yang membentuk paragraf demi paragraf itu. 

Aku mulai mengedit tulisan usang itu, menambahkan seluit kata-kata penambah makna dan mengurangi sederet baris yang tidak perlu. Sampai tengah malam, mata kupaksakan untuk melek dan otak kuperintahkan untuk berpikir lebih kreatif, menjalar kemungkinan rangkaian fantasi ini menjadi menarik.

“Selesai...” desahku bahagia. Cukup bangga dengan diriku yang sudah berusaha menyulap karya uzur menjadi sesuatu yang lebih fresh

“Ya Tuhan, jika ini memang yang Engkau takdirkan, ijinkan diriku dan temanku, Joana, menginjakkan kaki di tanah Britania. Bukankah, ini adalah kado yang sempurna pengganti high heels yang hilang?” doaku di sela pagi yang belum bersinar.

***
Satu bulan kemudian...

Negaranya ratu Elizabeth, begitu nama tenarnya. Tidak kusangka, aku memijakkan kakikku disini, saat ini bersama sahabat terbaikku. Sontak udara  dingin khas benua putih menyambut kedatangan kami, menerpa tubuh yang sedari lahir beradaptasi dengan iklim tropis. Aku mengencangkan mantelku yang tidak terlalu tebal, menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk mengusir hawa salju. Joana menggigil, tidak kuasa melawan dingin. Di bandara, kami terpaku, bingung bagai balita tersesat di keramaian. Mataku melirik ke kerumunan orang-orang yang sedang menunggu seseorang untuk dijemput. Di papan-papan itu tidak ada satu barispun nama kami tertulis.

“El, yang jemput mana?” tanya joana dengan suara yang sudah bergetar kedinginan. 

“Mungkin mereka telat kali,” ucapku seraya menoleh kesana kemari, sibuk mencari secarcik huruf atas nama kami. 

“Telat? Kok bisa? Emang orang Indonesia yang sering telat,” sindir Joana, sekarang dia menggandengku.

“Bule juga manusia. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Orang Indonesia juga tidak semuanya suka molor.” Timpalku.

“Ohhhh! Itu namamu, El... Jemputannya sudah datang!” Joana kegirangan, dia jingkrak-jingkrak melambai-lambaikan tangannya ke figur perempuan pirang yang tersenyum melihat kami mendekatinya. Aku tersenyum, mengeja sekali lagi sepotong papan itu, “Welcome in England, Elma Salsabila.” 

Akhirnya, hari itu datang juga. Hari dimana aku mendeklarasikan diri untuk menjelajah negeri ini. Ya, kawan, aku memenangi sayembara itu. Aku akan bertemu dengan pencipta sang penyihir fiktif, J.K.Rowling. Aku mengajak Joana, melaksanakan janji yang sudah terucap. Banyak agenda sudah kami rencanakan selama berdiam di negara persemakmuran ini. Buckingham Palace, Hampton Court Palace, Westminster Palace, London Eye, Menara Big Ben, Tower Bridge, Madame Tussauds, dan Kew Gardens, sederet tempat yang akan kami kunjungi. Khususnya Kew gardens, kebun botani nomer satu dunia, tempat impian Joana. Kecintaannya terhadap tanaman-tanaman, membuat Joana tidak henti-hentinya histeris membayangkan kalau dia akan memasuki wilayah itu dengan dikelilingi bunga-bunga indah. Kami tidak sabar akan menaiki London eye, menikmati panorama kota london dari ketinggian 135 meter yang berdiri gagah di tepi selatan sungai Themes

Namun, dalam buku catatanku, aku memiliki tempat khusus yang tidak akan mungkin terlewatkan. Oke, tempat-tempat indah yang aku sebutkan diatas adalah jajaran atas destinasi Inggris, tapi sebagai fanatik Harry Potter, aku sudah menyiapkan satu hari full untuk merapah jejak-jejak historis kota penyihir. Warner Bros Studios Leavesden Set Tour Hertfordshire, Harry Potter In Great Britain London dan Oxford, Kastil Alnwick, hogwarts school, serta yang paling membuatku berdebar-debar, aku akan menapaki setiap jengkal lokasi yang menjadi saksi bisu terlahirnya novel bersejarah itu, Edinburgh, Skotlandia, The Elevent House, kafe tempat Rowling menyusun draft untuk buku pertamanya. Ya, di kafe inilah, fans meeting akan digelar, seakan mengenang kembali awal bukunya tertulis.

Kami tiba dihotel, Citadines London Trafalgar Square Hotel. Kamar gratis yang cukup luas dengan jendela  menghadap hamparan kota. Indah sekali, london berbalut futuristik, kota kuno yang antik. Hari beranjak malam. Esok menuju ke Skotlandia, akan ada pertemuan dengan J.K.Rowling dan beberapa fans terpilih dari negara-negara lain. Kami bermalam mengusir capek, menanti besok yang lebih menyenangkan.

***
Pagi menyinsing. Liburan sesungguhnya dimulai, mimpi yang sekian lama terajut indah di hayalan, hari ini akan menjadi gelaran kenyataan yang tak akan terlupakan. Aku dan Joana berpisah di lobi hotel, kami memiliki tujuan masing-masing. Joana akan histeria dengan sederet kemegahan London, dan aku akan asyik menikmati keunikan Skotlandia.

Menaiki bus dengan rombongan peserta fans meeting, bersua dengan teman-teman yang memiliki kegemaran sama. Tiada henti kita bercengkrama, setelah perkenalan singkat pertanda basa basi pertemuan pertama.

Skotland, I’m comming...” teriakku membatin. Kami tiba, kini dihadapanku nyata, tegap berdiri bangunan sederhana namun penuh historis bagi kami, The Elevent House. Meski hanya pembaca setia, tapi kami merasakan jerih payah J.K.Rowling menumpahkan segala  kemampuannya untuk menghasilkan karya terbaiknya, di tempat ini.  Kami memasuki kafe itu dengan tertib, satu-satu duduk dikursi yang sudah disediakan. Aku tidak mau kalah, posisi terdepan harus kudapatkan. Aku ingin melototi Rowling selayaknya dia adalah jelmaan Harry Potter, walau keinginan terbesarku adalah didepanku sesungguhnya adalah Daniel Radcliffe

Pelaku utama pertunjukan muncul setelah beberap menit menanti. Sontak tepuk tangan membahan di ruang sesak itu. dengan anggunnya Rowling menempati singgasananya. Seorang ibu rumah tangga tulen dengan daya hayal sangat tinggi yang kini menjelma menjadi orang terkaya di Inggris.

Fans meeting berlangsung lancar. Pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut dipikiran kami selama ini terjawab sudah. Kami seakan lebih mengenal sosok Rowling secara lebih dekat. Tatap muka yang diakhiri dengan tanda tangan gratis. Walaupun berat, aku membawa semua koleksi novel Harry Potterku untuk dibubuhi coretan tangan Rowling. Hebohnya, aku mendapat pelukan nyonya penyihir. Setitik memori yang akan selalu terpatri dalam hidupu, dan memberiku inspirasi untuk terus berkarya meski akan berakhir di rak gelap lemariku.

“Seandainya Daniel juga ada disini, pasti hari ini akan sempurna.” Seruku dalam hati, masih menumpahkan hasrat terpendamku.

Setelah selesai acara di The Elevent House, kami serombongan diajak menjelajah sekolahnya para penyihir terpilih, hogwarts school.  Sekolah ini ternyata benar-benar ada, bukan rekayasa teknologi. Sebuah Kastil di Alnwick, Kastil tersebut adalah kediaman bangsawan Inggris yang masih tegak berdiri kokoh sejak abad ke-13 dan merupakan kastil  terbesar kedua yang ada di Inggris. Bangunan yang besar berdiri kokoh dengan gaya arsitekstur khas gothik Inggris kuno. Aku terkagum-kagum, tidak menyangka bisa menjamah bangunan ini. Aku menginjak rumput lapangan tempat Harry berlatih sapu terbang, aku memasuki perpustakaan bertumpuk koleksi buku-buku yang dibaca para penyihir. Dan kami dibolehkan menaiki menara tertinggi, sehingga dapat menikmati kastil megah itu.
Dua jam kami melihat semua sisi bangunan itu. saat melewati lorong keluar menuju pintu utama. Mendadak aku melihat bayangan masuk ruangan sebelah kanan. Aku terdiam, kemudian memisahkan diri dari rombongan. Rasa penasaran teramat besar untuk dihentikan oleh ketakutanku. Aku diam-diam menengok ruanga itu, ternyata ini adalah ruangan rahasia dalam film Harry Potter and the Chamber of Secrets. Aku berdecak mengawasi setiap sudut ruang. 

Oh My God...” desahku. Bayangan itu kini berdiri didepanku, melayang-layang. Herannya bulu kuduk-ku tidak berdiri,  malah aku menghayati suasana seram itu. Bayangan itu mengelilingi seraya tertawa. Aku membalas dengan senyuman termanisku, melambai-lambaikan tanganku tanda perjumpaan.

Hello, Harry...” ucapku pelan, sosok Daniel Radcliffe itu tiba-tiba terdiam. Badannya yang transparan sekarang menatapku garang, sama seperti pose di posterku lengkap dengan jubah dan tongkat sihirnya. Aku membalas tatapannya, tanpa takut. Dan “Bruggg....” Aku terkulai, pandanganku kabur, gelap.

***
Aku tersadar, menemukan diri tergolek di tempat tidur rumah sakit. Berbagai ekspresi wajah sekarang menatapku. Ada yang memandang kasihan, ada yang menggebu penasaran ingin mengintrogasiku tentang apa yang terjadi. Dan akau hanya tersenyum, bersyukur mereka menemukan, dan bahagia bisa bertemu Daniel Radcliffe meski itu adalah sebuah jin yang menampakan diri mirip seperti pemeran Harry Potter itu. 

“Impianku terwujud! Menginjakkan kaki di Inggris, berjumpa J.K.Rowling, dan bertemu Daniel Radcliffe.” Aku menjerit dengan bahasa Indonesia, membuat orang-orang di bangsal rumah sakit itu tertawa heran dengan kekonyolanku.

***
Aku balik ke london. Di hari terakhir kami di Inggris, aku dan Joana sepakat akan menaiki London eye. Diketinggian 135 meter kami menikmati kota London sembari berdekapan, terharu bahwa kini mimpi itu menjadi kenyataan.

-the end-
 








2 komentar:

  1. oh yah ... link si guri ngomong inggris dong Yiq :)

    BalasHapus

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea