Rabu, 20 Februari 2013

one heart 6 (the last part)

Diposkan oleh mongyimongyi di 09.11
Reaksi: 


November, 2017
“ji yeon a,,apakah kau baik-baik saja?, kau dimana sekarang? bagaimana dengan ha young, sudahkah bertemu dengannya? Apa yang dia katakan? ” suara khawatir 
dong joo dibalik telephone. Aku hanya terdiam mendengarkan bertubi-tubi pertanyaannya. kata-kataku seakan sudah habis ditelan oleh suara isakanku yang semakin membesar, nama ha young benar-benar  menghantuiku, Aku menggigil mengingat semua perkataannya.  

“kau menangis? Ji yeon a,,jawablah! ” teriak dongjoo lagi.

“tidak,,aku tidak menangis, hanya saja tiba-tiba terserang flu, udara disini sangat dingin” dengan segera aku menghapus air mataku seakan-akan dong joo tepat berada dihadapanku.

“kau baik-baik saja?” sekali lagi dongjoo memastikan keadaanku. 

“aku baik-baik saja, jangan khawatir !!” suaraku kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa.

“syukurlah, cepat kembali ke seoul!!, aku tidak sabar ingin mendengar hasil pemburuanmu”

“bagaimana haejun oppa? Apakah dia baik-baik saja?” tanyaku.

“sepertinya dia sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah sakit” jawab dongjoo.

“baiklah, aku kembali besok. Pulau ini ternyata tidak semenarik bayanganku” ujarku kembali mengingat peristiwa di hotel dan langsung menutup percakapan.

Diseberang telepon dongjoo mengerutkan dahi terheran mendengar kata terakhir jiyeon. “Padahal kemarin dia begitu senang bisa melihat pulau jeju, apakah telah terjadi sesuatu?” ungkap dongjoo dalam hati.
***
November 2017
Rumha sakit, kamar haejun
“hyeong,,apa yang kau lakukan?” teriak jaewon dari depan pintu. Tentu saja haejun tidak menghiraukan jaewon. Dongjoo pun mendekat dan menyentuh bahu haejun.

 “oooo,,,,rupanya sudah siap ingin meninggalkan rumah sakit” ucap dongjoo dengan mendekatkan wajahnya ke muka haejun. Haejun hanya tersenyum dan duduk kembali di kasurnya. “oh,,,jaewon a,,,kapan datang?” sapa haejun yang baru menyadari keberadaan jaewon. Dengan sedikit ragu-ragu jaewon melangkah mendekati haejun “hyeong,,apakah kau baik-baik saja?” jaewon memegang dahi haejun. Melihat tingkah jaewon, dongjoo langsung bereaksi dengan mimik muka lucu “tentu saja hyeong baik-baik saja,,,lihat ! bahkan dia sudah mengepak barangnya untuk keluar dari sini”, Merekapun tertawa bersama.
***
Taman rumah sakit, pukul 16.00
Aku berlarian mendekati haejun oppa yang sudah berdiri menungguku. “maaf,,,” ucapku dengan sedikit tertawa. 

“benar-benar tidak berubah, dari dulu selalu membuat orang menunggu” lirih haejun sambil mengelus rambutku. Aku tersipu malu karena memang benar apa yang dikatakan haejun kalau aku selalu terlambat dan kadang sering lupa kalau sudah berjanji.

“oh,,,,syal itu?” terkejut sambil menunjuk syal putih yang melingkar hangat di leher haejun. syal yang setengah rajutannya berantakan dan setengahnya lagi rapi seperti dikerjakan oleh seseorang yang sudah mahir.

“kau menyimpannya? Aku kira kau sudah membuangnya” nadaku menyindir.

“kenapa harus dibuang?, lihat,,,syal ini sungguh unik, ujung yang ini berantakan banget, dan lihat yang ini rajutannya sangat bagus” haejun membuka syal itu dari lehernya dan menunjukkan bagian-bagian yang dia sebutkan dan memakainya kembali.

“bagaiman bisa oppa tahu, kalau itu syal dariku?” ujarku bersemangat. 

“gampang,,,karena tidak akan ada perempuan yang akan menyerahkan hadiah seburuk ini kepadaku,,” ucap haejun mencibir. “chissssss,,,,” aku mendesis nyengir. kemudian  Kami diam beberapa saat.

“oppa,,,kau tahu, siapa cinta pertamaku?” tanyaku mentapa tersenyum haejun di bawah pohon sakura yang bermekaran (tempat yang sama di part 1),  Haejun hanya menatapku terheran.

“oppa,,,kaulah orangnya. Sejak pertama kali masuk SMA, mataku hanya tertuju kepadamu. Tapi kenyataannya kau berpacaran dengan hayoung yang membuatku berpikir lebih baik mundur saja. Hayoung bukan sainganku, bahkan dia gadis yang sangat popular dulu. Semua pria mengejarnya. Dan aku semakin menyadari cintaku bertepuk sebelah tangan” aku diam sesaat, pandanganku tak lepas dari mata haejun. 

“dulu,,saat aku mengatakan tidak pernah menyukaimu. Itu semua bohong!. Bahkan aku selalu berdoa agar sekali saja kau melihat dan merasakan keberadaanku. Tapi sinyal itu tidak pernah ada. Dan aku berpikir untuk membunuh perasaan ini, tapi sungguh tidak bisa. Berkali-kali aku akan melupakanmu dan menjalin hubungan dengan yang lain, di saat itu pula aku ingin melihat kau cemburu. Tapi itu sangatlah mustahil, karena untuk memandangku saja kau tidak sudi” air mataku mulai jatuh mengalir semakin deras.

“sekarang, apakah perasaan itu masih sama?” Tanya haeju, aku mengangguk dengan tatapan hangat.

“jiyeon a, dengarkan aku baik-baik!, aku,,bukan haejun yang dulu lagi, Haejun yang sempurna dimata dan pikiranmu. Kenyataannya sekarang,, aku adalah seseorang yang tidak bisa mendengar apa-apa, bahkan suaramu. Aku tuli, pendengaranku hilang saat kecelakaan itu dan tidak akan pernah kembali tetapi aku berpura-pura bisa mendengar semua hal. Apakah kau mau menerimaku dengan keadaan cacat seperti ini?” haejun memegang pundakku.

“oppa,,aku sudah tahu semuanya, sejak awal. Aku tidak peduli seperti apa kau sekarang. Aku bersedia menjadi telingamu, bersedia menjadi alat pendengaranmu seumur hidupmu” kataku tegas.

Haejun menjitak kepalaku seperti biasa yang ia lakukan “aku akan membunuhmu, jika kau tiba-tiba menghilang dari hidupku!” dia tersenyum puas lalu bangun dari duduknya dan melangkah menjauhiku. Aku tersenyum mengelus-elus rambutku dan melihat punggungnya yang semakin menjauhiku.

***
Februari, 2013
Hannyoung high school
Aku merajut sampai larut malam, sudah sepuluh hari aku harus begadang menyelesaikan syal yang panjangnya hanya satu setengah meter dan lebar 30 centimeter ini. Aku bersusah payah untuk belajar dari ibuku cara membuatnya demi hari spesial yaitu tanggal 14 februari. Sampai-sampai mata panda muncul di wajahku. 

“syal ini harus jadi sekarang!” aku melihat jam dinding, sudah pukul 01.00 dini hari. Tapi kembali melihat syal setengah jadi ditangan, aku mulai lemas dan mendengus tak bersemangat “apa mungkin bisa selesai?, masih setengah lagi yang harus dijahit. Dengan kecepatan merajutku yang sangat lambat bisakah aku bisa memberikan syal ini kepada haejun oppa besok?” aku mendengus lemah lagi. 

“apakah aku harus meminta bantuan ibu untuk menyelesaikannya?” pikirku lagi. Tapi dengan segera aku menggeleng tidak boleh. “I can do it, fighting,,fighting,,fighting!!!” aku kembali menyemangati diriku. Aku menepuk-nepuk pipiku agar tambah bersemangat, sekitar 15 menit berlalu aku berusaha keras dengan mata setengah watt dan kecepatan siput aku kembali menggerak-gerakkan jemariku. Sampai akhirnya aku hilang kesadaran, tergeletak tidur dengan benang-benang masih berserakan di tangan dan disekelilingku.

“Kring,,,,,,kring,,,,kring,,,” jam wekerku berbunyi seperti pagi biasanya. Dengan santai aku bangun merenggangkan kedua tangan, setelah menguap menutup mulutku dengan tangan baru aku menyadari tentang rajutanku semalam. Aku melirik ke meja sebelah dan lega sambil mengelus dada syal itu sudah tertata rapi. Aku meraih syal itu dan kaget syal itu sudah jadi sempurna. Aku berpikir mungkin malaikat penolongku yang mengerjakannya yang tidal lain adalah ibuku. 

Siap berangkat sekolah, dengan penuh semangat  aku keluar kamar langsung menuju meja makan. Terlihat ibuku sedang sibuk menyiapkkan sarapan, aku memeluknya dari belakang dan berbisik “terimakasih telah menyelesaikan syal ini” kemudian aku mencium pipinya dan pergi  berlalu. Ibuku terkejut dengan tingkah anehku yang tiba-tiba itu dan hanya bisa berkata “sarapa dulu” tapi aku mengacuhkannya. 

Sesampai di sekolah, seperti sebuah tradisi memberikan sesuatu yang spesial kepada orang yang spesial di hari valentine. Teman-teman satu sekolah ribut dengan urusannya masing-masing, ada yang menggunakan moment ini sebagai hari untuk menyatakan cinta ada juga sebagai hari bertukar hadiah sesame teman. 

Dengan berdesak-desakan aku melangkah keluar kelas yang gaduh. Aku menuju kelas tiga IPA 1, disana tidak kalah ramai, bahkan terlihat antrian yang begitu panjang di koridor. Aku segera mengambil posisi antraian dan menutup wajahku dengan masker pura-pura sakit flu. Ketika giliranku, aku melihat meja bertulis haejun penuh dengan kotak-kotak berbagai warna dan bentuk “apakah ini semua untuk haejun oppa?” pikirku. “wahhhh,,dia sungguh sangat terkenal” pikirku lagi yang membuat antrian di belakangku berkicau. Aku kemudian menaruh kadoku dengan hati-hati dan sekilas melihat kelas, tapi tidak ada haejun disana.  Aku kembali ke kelas dengan penuh kelesuan, tidak bisa melihat wajahnya walau sejenak. 

Namun, dari kejauhan ada yang memperhatikan tingkahku. Dia berdiri santai sendiri di pintu perpustakaan dengan senyum tersungging. dia seolah tahu hari ini pasti hanya tempat inilah yang tidak akan dikunjungi siswa. Dia adalah HAEJUN, JANG HAEJUN.

***
November, 2017
Malam di atap rumah sakit
“pulau jeju, park hayoung, apa yang kau dapatkan?” dongjoo dengan nada penasaran.
Aku mendesah kemudian menarik nafas “pulau jeju sangat berkesan, aku tidak akan pernah melupakannya” aku bicara sambil mengangguk mengiyakan. 

“park hayoung, dia tidak seburuk yang aku kira” lanjutku tersenyum kecut, membuat dongjoo semakin penasaran.

“jiyeon a,,,!” hardik dongjoo yang mulai tidak sabaran.

“semuanya salahku,,,selama ini aku berpikir kalau aku adalah orang yang paling benar, aku selalu menyalahkan park hayoung dengan kejadian ini. tapi sekarang, aku sadar bahwa akulah penyebab semua ini, keegoisanku yang membuat haejun oppa menderita” suaraku merendah.

“apa maksudmu?” Tanya haejun yang tambah penasaran. 

“mulai sekarang, kau jangan membenci park hayoung. Kalau kau ingin menyalahkan seseorang atas peristiwa ini, cukup salahkan aku saja,,”.

“jiyeon a,,,tolong berbicaralah terus terang. Aku tidak mengerti dengan semua perkataanmu. Kau yang salah, park hayoung tidak salah. Bahkan kau menyuruhku untuk tidak membencinya. Bagaimana bisa aku tidak membencinya atas semua yang terjadi?” teriak dongjoo emosi.

“dongjoo ya,,,haejun oppa jatuh dari tebing bukan park hayoung yang mendorongnya,, Itu adalah sebuah kecelakaan. Itu yang sebenarnya terjadi” aku mengangguk meyakinkan dongjoo. 

“di masa depan,,tolong jangan mengungkit masalah ini lagi. Mengerti!!!” menunjuk ke muka dongjoo sambil memperlihatkan sedikit aegyo[1].

Dongjoo menarik nafas tidak puas, tapi dia berusaha menerima semua perkataanku, “baiklah,,kalau itu yang terbaik. Aku akan menganggap pristiwa ini tidak ada kaitannya dengan park hayoung, murni sebuah kecelakan. Apa kau puas?” teriaknya jengkel.

“terima kasih,,,,dongjoo ya,,,” sambil aku menepuk bahunya. 

***
November, 2017
Rumah Jang Haejun, Cheongdamdong
Kami berpesta merayakan kepulangan haejun oppa dari rumah sakit. Aku, kim dongjoo, lee jaewon dan kami pun mengundang park jinhae beserta istrinya. Tampak gurat kesenangan di wajah haejun oppa.

“haejun hyeong,,,bagaimana kalau kita karokean?” ide jaewon.

Aku dan dongjoo kemudian saling lirik dan serempak mengatakan “tentu saja boleh” aku dan dongjoo bernafas lega. Jaewon pun mulai memutar musik dan bernyanyi. Kami mengikuti irama musik sambil sesekali melambaikan kedua tangan ke atas.

Aku melihat jinhae ‘dia adalah orang yang aku suka dulu sejak kuliah’, kemudian aku memperhatikan jaewon yang sedang asyik bernyanyi ‘dia tetap seseorang yang menyukaiku, tapi sekarang hanya sebatas teman’ dan dongjoo ‘sosok yang selalu bisa aku percaya’ dan terakhir Haejun ‘kau sekarang ada dalam hatiku selamanya’. 

Kami menikmati malam itu. Jaewon dan dongjoo saling berebutan untuk bernyanyi, jaewon yang menyukai lagu ballad dan dongjoo yang lebih tertarik dengan lagu bergaya hip hop, membuat tawa kami semakin riuh. Aku menggengam tangan Haejun oppa dan dia tersenyum memandangku. Seakan-akan bintang dan rembulan di langit juga ikut menari bersama kami. 

Entah sampai kapan rahasia ini akan tersimpan? Entah kapan jaewon, jinhae dan semua orang akan tahu keadaan haejun oppa yang sebenarnya. Tapi yang pasti, aku,, Kang Jiyeon akan selalu tetap berada di sisinya! ^^

Selesai^^

mohon kritikannya atas cerita ini,,,,
maaf dengan keterbatasanku sebagai penulis,,,,,

[1] Gaya imut

1 komentar:

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea