Kamis, 25 Oktober 2012

one heart (part 2)

Diposkan oleh mongyimongyi di 09.03
Reaksi: 


November 2017

di atap teras rumah sakit, aku masih termenung menopang dagu,berpikir, mengapa dia bersikap sok tidak kenal dengan ku. Padahal terakhir kita bertemu sekitar  tiga tahun yang lalu ketika acara wisuda kelulusan, dan dia memutuskan untuk melanjutkan spesialis kuliah ke luar negeri.

“pemandangan di sini indahkan, jiyeon ssi?” sekali lagi suaranya mengagetkan aku. aku membalik badan melihatnya berjalan menghampiriku. Sungguh, banyak sekali perubahan pada dirinya yang membuatku bengong, bagai di hipnotis. Dia berjalan dengan santainya, mendekat dan semakin mendekat ke arah ku. Aku sepertinya ingin berlari menjauh tapi entah apa yang terjadi, bahkan otak ku tak merespon keinginan tubuh ku. 

Dia menyodorkan segelas kopi hangat dan berkata “saya tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini, ternyata sampai sekarang kau masih menyukainya”, dia tersenyum sambil meneguk kopinya. Aku merasa senyumannya itu adalah sindiran buat ku. Aku di pukul KO kali ini. Kopi hangat tadi tiba-tiba berubah sedingin es. 

“kau banyak berubah dongjoo ssi,,” aku mengalihkan pembicaraan pura-pura tidak mendengar pernyataannya tadi. 

“benarkah ?, aku merasa aku masih dongjoo yang dulu, bukankah kau yang berubah,,saya tidak melihat jiyeon dulu yang selalu bersemangt, selalu ceria dan penuh dengan obsesi, apa yang terjadi dengan hidupmu selama aku pergi?” Tanya dongjoo menatapku.

“aisssssssshhhhh,,,aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi kau tidak perlu khawatir dongjoo ssi” candaku sambil menyenggol lengannya. Dia hanya tersenyum mendengarkan kata-kataku.

“wahhhhhhh,,,kau operasi plastik ya, mana kulitmu yang dulu hitam,,bahkan sekarang kau juga mengganti gaya rambutmu,,” canda ku meraba-raba mukanya dan mengacak-acak rambut lurus berponinya. 

Dongjoo tidak menanggapi candaan ku. Dia hanya melihatku sambil sesekali menghela napas. Aku tidak tahu entah apa yang dipikirkannya, tapi aku bisa membaca tergurat kesedihan di wajah barunya.

“dongjoo ssi, mianhae (maaf),,,aku hanya memikirkan perasaanku sendiri, aku tidak menganggapmu serius waktu itu,,,apakah gara-gara itu kau pura-pura tidak mengenaliku tadi di hadapan haejun oppa?, apakah kau masih marah padaku?” aku memulai pembicaraan lagi.

“lebih baik saya bersikap seperti itu di depan orang yang kau sukai, berpura-pura tidak mengenalmu” jawab doongjun acuh.

“perempuan macam apa yang bahkan seperti tidak terjadi apa-apa kepada seorang laki-laki yang sudah menyatakan perasaan kepadanya, bahkan aku belum sepenuhnya melupakanmu sampai detik ini, bayanganmu selalu menghantuiku, dalam mimpi ku pun kau selalu datang” ucap dongjoo dengan nada mengejek. Aku semakin kikuk mendengar pengakuan dongjoo. 

***

Januari,2013

Sore yang cerah, seharusnya enak digunakan pergi jalan-jalan atau bahkan ke pantai menikmati indahnya sunset, tapi entah kenapa hari itu  mood ku sangat jelek. Aku memilih uring-uringan, menutup diri dengan selimut di kamar, sesekali aku melihat layar HP yang sungguh tidak pernah berdering hari ini, walau hanya sekedar sms iseng dari operator. 

“jiyeon a,,,keluarlah,,,,ada telepon,,,!” teriak ibu ku yang sedang sibuk di dapur.

Aku senang bukan main, selimut ku lempar segera aku keluar kamar dengan jingkrak penuh gairah seperti habis memungut uang seratus ribu. Melihat tingkah ku ibu hanya geleng-geleng kepala. 

“hallo,,,siapa ini?” ujar ku tak sabar mendengar suara siapa yang berada di seberang.
“jiyeon ssi,,,tak kenalkah kau dengan suara ku,,,saya dongjoo, kim dongjoo, orang yang selalu setia denganmu” jawab dongjoo dengan nada humoris.

“hei dongjoo,,,kenapa  baru sekarang kau menghubungi ku, tidak tahukah kalau aku begitu merindukanmu?” ucap ku bercanda sambil duduk di sofa senyaman mungkin.
“benarkah kau begitu merindukanku,? Aku juga selalu merindukanmu,,,”jawab dongjoo, kini dengan nada yang lebih serius.

“aishhh,,,,sudahlah jangan bercanda lagi,,,oya,,gimana kabarmu sekarang?” suaraku mulai layu.

“jiyeon ssi,,,kau tahu, aku sudah memendam perasaan ini selama lima tahun, sejak pertama kali bersama di kelas satu dulu aku sudah mulai menyukaimu, tapi aku tidak berani mengungkapkan hal itu, karena ternyata temanku juga menyukaimu,,,(diam sejenak), aku mendapat kabar kalau ternyata kau tidak menyukai teman ku setelah lanjut kuliah, dan sekarang aku memberanikan diri mengatakan perasaan ku,,,,,(diam lagi), jiyeon ssi,,,aku menyukaimu,,” .

Tidak pernah aku menduga akan mendengar perkataan itu. Ternyata dongjoo, kim dongjoo menyukai ku. Aku yang dulu ketika SMA pernah berharap dia akan menjadi pacarku, ternyata juga menyukaiku. Kenapa dia baru memberitahuku sekarang ketika dia sudah berada di belahan bumi nun jauh, dongjoo kau benar-benar bodoh, sangat bodoh sampai tidak bisa membaca hatiku juga bahwa aku juga menyukaimu sampai sekarang walaupun tidak sebesar dulu ketika SMA. 

Telepon masih tersambung, aku terdiam mematung begitupun suara dongjoo tidak terdengar lagi, tapi aku tahu dia tidak beranjak dari teleponnya, apakah ingin mendengar jawaban ku langsung. Aku tidak bisa berpikir sekarang, dengan bodohnya aku pun menjawab “dongjoo ssi, aku sudah menyukai orang lain,,sekarang dihatiku hanya ada orang itu”. Sekali lagi aku berbohong.

“apakah Haejun hyung orangnya ?” ucap dongjoo dengan suara bergetar.
Aku terdiam, memang tidak ingin membahas hal ini. Ibu yang melihat sikap ku langsung menghapiri sambil berbisik “apakah kau baik-baik saja,,,?”. Aku hanya mengangguk dan menyuruh ibu mengurusi pekerjaannya saja. 

dongjoo tahu, entah dia tahu darimana kalau aku semasa SMA selalu menyukai Haejun oppa walaupun dia sudah punya pacar teman kelas ku park hayeong. bahkan suatu hari dia pernah melarang saya untuk tidak menyukai pacar teman, tapi aku hanya tersenyum dan tidak menyadari bahwa dia juga menyukaiku. karena sebenarnya bukan haejun oppa saja yang aku sukai tapi juga dia.

“karena kau tidak menjawab ku, berarti aku anggap dugaanku benar,,,,ahhhhhhhh,,,,beginikah rasanya orang yang ditolak cintanya ?, jiyeon ssi,,,aku berharap kau tidak melupakanku” suaranya kembali bernada humoris.

“kim dongjoo, aku harap kita masih tetap berteman,,,” ucap ku tidak ikhlas, karena sebenarnya aku juga bingung dengan perasaanku, apakah aku benar-benar menyukai haejun oppa, dan aku juga tidak bisa menyangkal bahwa kau adalah teman yang istimewa.

Teeeeeeeettttttttttt,, suara telepon terputus. Air mata ku tumpah, tidak tahu aku menangis karena terharu mengetahui kenyataan bahwa dongjoo juga menyukaiku atau aku menangis sedih karena tidak bisa bersama dongjoo.

***

November 2017

Di ruang VIP, luas dengan dekorasi seperti rumah, TV, sofa empuk, penghangat ruangan dan kamar mandi pribadi, sekilas tak tampak seperti ruang perawatan pasien, hanya saja ranjang khas rumah sakit masih menandakan ruangan itu adalah untuk orang tidak sehat. 

Haejun sedang asyik membaca halaman demi halaman sebuah buku tentang arsitektur. Suara TV yang volume suaranya full tidak dihiraukannya. Sesekali dia melirik jam dinding seolah-olah dia menunggu seseorang datang. Kegelisahan mulai Nampak diwajahnya, dia meronta-ronta, berteriak sambil menutup kedua telinganya. Beberapa perawat memasuki ruangan, mereka berusaha untuk menenangkan haejun, tapi haejun malah semakin beringas. Salah satu perawat mencoba menelpon dokter, dan berselang beberapa menit dongjoo datang. Dia langsung memeluk haejun “hyung,,,hyung,,,sadarlah,,,,ini aku,,dongjoo” ucap dongjoo sambil berusaha menenangkan haejun. Dongjoo terus mendekap haejun walaupun beberapa pukulan dihantamkan kepadanya. Sampai akhirnya haejun menyerah juga, semakin lama, rontaannya semakin melemah dan tidak sadarkan diri. Dongjoo dibantu perawat memapah haejun ke tempat tidur, menyelimutinya dan menghapus keringat yang membasahi wajahnya. Para perawat dipersilakan keluar ruangan, sekarang hanya Dongjoo duduk di samping haejun dan menatapnya dengan penuh kesedihan.

“hyung,,,kenapa kau seperti ini ? kenapa kau merahasiakan penyakit mu ini ke semua orang yang menyayangimu,termasuk kepada jiyeon,,,bahkan sampai saat ini dia menganggap mu baik-baik saja?” ucap dongjoo lirih. Dongjoo menangis melihat keadaan haejun “sampai kapan kau akan keras kepala seperti ini. Kau takut mereka akan terluka menerima kenyataan ini. Tidak,,,sesungguhnya mereka akan menerima hyung apa adanya”.

Tanpa disadari air mata Haejun mengalir membasahi pelipisnya, dia menangis dalam tidurnya.

bersambung,,,,

8 komentar:

  1. kelemahan saya... sangat sulit mengingat nama orang, ini aja sy harus buka kembali perkenalan tokohnya... ini haejun yang mana? dongjoo yang mana? perasaan perkenalannya 4 cowok tapi yang dominan keluar malah yang dua ini yah...hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kritiknya onni,,,,sungguh cerita ini banyak kelemahannya,,,,he

      Hapus
    2. itu bukan kritikan Yiq... ane cuma bertanya-tanya gimana dengan 2 pemudamu yang lain, hehe...

      namanya juga pemula...kita emang harus masih banyak belajar...ayo saling menyemangati!!
      :)

      Hapus
    3. tenang,,,ntar juga keluar walau hanya sebentar,,,hehehe

      Hapus
  2. sm seperti aigoooooo....tp mulutnya agak ditutup..lagi2 bersambung, bisa banget...sy masih blm bisa bikin cerbung.lanjutkannnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. samoooo... sy suka ilang mood kalo buat cerbung... duluan males lanjutinnya...hehe..

      Hapus

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea