Senin, 12 November 2012

one heart (part 4)

Diposkan oleh mongyimongyi di 09.14
Reaksi: 


November  2017

Sejak hari itu, aku tidak menampakkan diri di rumah sakit.  Sudah seminggu ini, aku tenggelam dalam pekerjaan yang  tak kunjung selesai. Berkali-kali dongjoo menelpon dan mengirimkan pesan singkat tapi tidakku hiraukan. Aku hanya ingin menenangkan diri barang sejenak dan berusaha menerima kenyataan itu dengan lapang dada. 

Sekali lagi teleponku berbunyi, ini pasti dari dongjoo lagi pikirku. Aku benar-benar tidak punya keberanian untuk mengangkatnya. Malam semakin larut, tetapi jalan gangnam semakin ramai dipadati massa. Mereka seperti tidak punya masalah dalam hidupnya, riang gembira berjalan bergadengan tangan dengan sang kekasih, bahkan ada yang bergerombol sambil bercanda dengan teman sebaya. Aku bagai sendiri di dunia ini, merasa sangat kesepian ditengah kemeriahan kehidupan malam jalanan ibukota. Kerlap kerlip lampu jalan dan benderangnya lampu deretan toko tak mampu menyinari hatiku yang sudah terlanjur kelam. 

Langkahku terhenti sejenak, kemudian aku mencoba menutup telinga dengan kedua telapak tangan dan memejamkan mata perlahan. Pikiranku mulai melayang, membayangkan bagaimana jika aku tidak bisa mendengar seumur hidupku, bagaimana jika aku terus hidup dalam kesepian tanpa suara sedikitpun. Tiba-tiba bayangan Haejun oppa terlintas dalam benakku melihatnya menangis pertama kali seumur hidupku membuat aku begitu menderita, “apa yang dia lakukan sekarang?, apakah dia baik-baik saja?,akankah dia mampu menghadapi cobaan ini?”, tanpa sadar air mataku jatuh, terus jatuh mengalir membasahi pipiku. Aku membuka mata kembali melihat ke sekitar, orang-orang sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Aku semakin terisak dengan kegelisahan ini, langkahku semakin cepat, seperti orang tersesat dan tak tahu jalan pulang, aku berlari dan terus berlari sampai pada akhirnya menemukan diriku tepat berdiri didepan rumah sakit.

“Haruskah aku masuk?”, desahku putus asa, sungguh kakiku sangat berat untuk melangkah barang sejengkal. Batinku berkecamuk, “apa yang harus aku lakukan?”.
“jiyeon a,” suara itu memecahkan kesendirianku. Aku menengok ke belakang dan melihat park jinhae melambaikan tangan. Aku tertegun, karena seseorang yang tak kukenal menggandeng erat tangannya. 

“oh,,,annyeonghaseo,”[1] sapaku dengan senyum dipaksakan. Pandanganku tak beralih dari perempuan disamping jinhae. Aku menatap jinhae, memperlihatkan ekspresi penasaran ‘siapa wanita ini?’.

“jiyeon a, perkenalkan ini istriku” ucap jinhae penuh semangat. “Dialah orang yang aku ceritakan dulu” lanjutnya menatap sang istri mesra.

“oh,,,begitu rupanya, annyeonghaseo,,,saya kang jiyeon”, tukasku pura-pura terkejut, kemudian memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.

“annyeonghaseo, saya chaerim” balas perempuan itu ramah menjabat tanganku.

“oppa, ibumu sungguh pintar menilai wanita, dia mampu melunakkan batu karang yang sangat keras,sanggup mencairkan hati yang beku bagai es” kataku dalam hati.

“kau tidak masuk?” Tanya jinhae dengan telunjuk mengarah ke bangunan dibelakangku, membuyarkan pandanganku dari istrinya.

“oppa, darimana kau tahu kalau haejun oppa dirawat disini?” tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaan jinhae terlebih dahulu. Terlihat mimik kaget istrinya mendengarkanku memanggil jinhae dengan sebutan oppa, namun sesegera mungkin dia kembali tersenyum.

“dongjoo yang menelponku, dia mengatakan kalau hyeong sedang dirawat di rumah sakit ini” ujar jinhae. 

“apakah kau mengetahui penyakit haejun oppa?” tanyaku memastikan kalau dongjoo tidak membocorkan rahasia. 

“dongjoo tidak mengatakan apa-apa, dia hanya bilang kalau hyeong sedang terbaring lemah” jawab jinhae dengan wajah polos yang memang tidak tahu apa-apa.

“mari kita masuk sama-sama,,,!” ajakku bersemangat, entah darimana datangnya energi itu, tapi yang jelas, aku akan memastikan kalau jinhae tidak akan pernah tahu bahwa haejun oppa telah kehilangan pendengarannya.

September,2013
Sunkyunkwan university

Waktu terus berlalu,  tanpa disadari aku semakin dekat dengan jinhae walau hanya sebagai teman biasa, Tapi aku tetap senang karena dengan cara itulah aku selalu bisa melihat wajah dan mendengar suaranya. Sifat pendiamnya memang tidak berubah, dan aku harus berjuang setiap waktu untuk memecah kebisuan. Terkadang aku membicarakan hal-hal yang tidak bermutu, entah itu tentang masalah kuliahku, keluargaku, sampai hobi-hobiku, namun jinhae dengan sabar duduk mendengarkan. Dia sesekali menanggapi dengan sedikit senyuman paksa dan anggukan tanda mengerti. 

Bagaimanapun aku melihat wajahnya selalu dipenuhi dengan kegundahan, kali ini aku memberanikan diri untuk bertanya, “oppa,,apakah kau baik-baik saja?” dengan nada penuh kekhwatiran. Dia hanya menggeleng, dan jawaban itu membuatku semakin membujuknya.

“bukankah kita teman, tidak biskah kau berbagi sedikit masalahmu kepadaku?” ucapku penuh kekesalan, memandangnya dengan tatapan tajam. Aku menunggu-nunggu kata-kata apa yang akan dia ucapkan. Lima menit pertama, hanya suara angin yang menghampiri telingaku. Sepuluh menit berlalu jinhae masih saja terdiam.

“kalau kau tidak mau bicara, baiklah,,,aku akan pergi dari sini!” ancamku yang kemudian beranjak menjauhi jinhae. 

“jiyeon a,,,,berhenti!”, jinhae berdiri dari tempat duduknya. Seketika kakiku enggan untuk melangkah, aku terdiam tanpa menengok ke belakang. Kemudian aku tersenyum simpul karena aku tahu pasti dia akan bersuara.

“berhentilah menyukaiku!, semakin kau menyukaiku, hidupku semakin menderita” terdengar nada jinhae penuh harap. 

Langit bagai runtuh, bumi terasa berguncang kuat, dan petir dahsyat seperti menghantam ragaku. Senyumku lenyap seketika, wajahku memucat hebat, jantungkuku seakan berhenti berdetak ‘sejak kapan jinhae tahu perasaanku?, bagaimana dia bisa tahu, siapa yang memberitahukannya?’, suara batinku terus bergejolak, otakku seperti berputar mencari jawaban kesana kemari atas pertanyaanku sendiri. 

“kau tidak tahu betapa sulitnya aku menghadapi situasi ini, ketika kita semakin dekat tiba-tiba ibuku sudah menyiapkan calon istri yang pantas menurut dia. Aku tidak bisa menolak permintaannya, karena ibuku sangat berharga. Ibuku sekarang sedang sakit, dan permohonan terakhirnya sebelum dia meninggal yaitu aku harus menikah dengan wanita pilihannya” isak jinhae dengan ekspresi wajah kacau. 

Aku tidak bergeming sedikitpun, Kata-kata jinhae membuatku tak kuasa bergerak. Hatiku terasa perih bagai teriris sebilah pisau.

“jiyeon a,,,!” jinhae berteriak keras. Karena aku terlalu takut menatapnya, aku masih terus membelakanginya, Air mataku hampir tumpah dan aku berusaha untuk menahannya, jangan sampai jinhae melihat sedikit pun kesedihan dimukaku. 

Kemudian aku menghela napas, menenangkan diri sebisa mungkin dan memutuskan untuk membalikkan badan dengan tersenyum manis ke arahnya, berpura-pura tegar dan berkata “oppa, aku rasa kau salah menilai diriku, aku tidak pernah menyukaimu, bahkan sampai saat ini kita hanya bertemankan,,,”, aku berhenti sejenak, leherku seperti tercekik, suaraku seakan tertahan, air mataku sudah tidak sabar keluar dari tempatnya tapi aku tetap memperlihatkan wajah santai tak berdosa. 

“ aku tidak pernah mengharapkan lebih, jadi kau tidak perlu khawatir”, aku kembali memasang senyum paksa menutupi semua kebohonganku.

“tapi aku……”jinhae berusaha menjawab, namun aku buru-buru memotongnya.

“semoga kau bahagia, oppa” lanjutku melihat wajah jinhae yang tanpa semangat, seperti putus asa. “tenanglah, aku pasti akan hadir di hari pernikahanmu” kemudian aku melambaikan tangan untuk terakhir kalinya dan berlalu dengan wajah sandiwara. Aku melangkah dengan santai dan ketika jarakku dengan jinhae sudah cukup jauh, pada saat itu juga air mataku akhirnya tumpah ruah, aku tidak bisa lagi menahan diri untuk menangis habis-habisan, terus terisak sepanjang jalan pulang tanpa malu dengan sekitar yang sekilas memperhatikan.

“aku bahagia bisa mengenalmu, dan menjadi seseorang yang ada dihatimu. Sungguh aku kagum dengan sikapmu, aku ingin seperti dirimu jiyeon a,,, ketika sedang sedih maka kau akan menangis, jika merasa kesal dengan segera kau melimpahkan kemarahanmu, dan saat hatimu bahagia tanpa sungkan kau akan tersenyum senang. karena tidak semua orang bisa melakukan sepeprti yang kau perbuat, termasuk aku” jinhae bergumam pilu menyiratkan kesedihan.

Bahkan sekarang aku tidak bisa menolak permintaan ibuku, aku tidak bisa menangis bersedih, tidak sanggup memuntahkan amarah dan tak mampu tersenyum bahagia. Kau berbeda, sekarang walaupun kau tampak senang menanggapi kata-kataku dan mengucapkan kalau kau tidak menyukaiku namun aku tahu bahwa sekarang kau sedang berbohong dan menangis, jiyeon a,,,maafkan aku” lanjutnya merintih masih memandang lemas jiyeon berlalu meninggalkanya begitu saja.

November,2017
Rumah sakit, kamar VIP 203

Sepanjang jalan menuju kamar haejun oppa, tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara kami bertiga. Aku, jinhae dan istrinya chaerim terdiam dalam kerumunan orang-orang sakit yang lalu lalang. Hanya chaerim yang sesekali melempar senyum kepadaku sedangkan jinhae diam membeku dalam genggaman tangan istrinya. Mungkin tidak ada yang perlu dibicarakan atau sekedar untuk basa basi pun aku kehilangan kata-kata. 

Sekarang jinhae telah berubah, tidak seperti ketika bersamaku dulu, kaku dan pendiam. Kini dia lebih sering mengajak istrinya berbicara dan bercanda saling tersenyum mesra. Sedangkan aku sekarang, hanya bisa mengamati mereka berdua walau dalam hatiku terbersit sedikit cemburu, “kenapa dia tidak seperti itu kepadaku dulu” batinku. 

Meskipun sedari tadi aku berjalan disamping jinhae, dia Cuma sekali menoleh kepadaku dan selebihnya chaerim adalah prioritas utama.  Aku seperti sebuah tiang di sepanjang jalan yang tidak dipedulikan. Aku mulai kesal sendiri, jengkal kaki aku percepat dan mendahului mereka. Lorong ini terasa begitu panjang, padahal hanya beberapa meter dari kamar haejun oppa. 

akhirnya sampai juga” aku mendesah dalam hati. Dengan hasrat tinggi aku mempersilakan mereka masuk setelah membukakan pintu. Langsung saja kedatangan kami disambut bersemangat oleh haejun oppa, ternyata ada dongjoo dan jaewon juga di kamar itu. Jinhae dan istrinya mendekati haejun oppa dan berkata “hyeong, bagaimana keadaanmu sekarang?, cepatlah sembuh!,”.

“tentu saja, dia akan sembuh, iya kan oppa?” aku menyerobot menjawab. Haejun oppa menggelengkan kepalanya kepadaku. Aku sungguh bahagia melihat sikapnya kembali seperti biasa, tidak terlihat sedikit pun gurat kesedihan di wajahnya.

“jinhae ya,,kalian tampak serasi” ujar haejun oppa. Chaerim pun tersipu malu dengan pujian itu, dan jinhae menanggapi dengan tersenyum. 

“oh, jaewon ssi,,,bagaimana kabarmu?, lama tidak bertemu” sapa jinhae akrab mengalihkan pandangannya ke jaewon. Jaewon menjawab seadanya saja, karena mereka tidak begitu saling mengenal, bertemu pun hanya beberapa kali ketika jaewon dulu datang ke kampusku ketika aku harus menyelesaikan tugas wawancaraku.

Aku kemudian bereaksi berlebihan, langsung melompat merangkul jaewon, terpaksa jaewon harus menundukkan badannya yang tinggi karena lenganku yang pendek melingkar dilehernya , sontak semuanya menatap heran dengan tingkahku. 

“kenapa kalian menatapku seperti itu?” aku menampakkan muka sengaja tidak mengerti. Mereka hanya memunculkan senyum tak peduli. Aku kemudian menghampiri haejun oppa yang duduk berselimut di kasur empuknya, aku memandangnya lekat-lekat “mianhae[2], aku baru bisa datang sekarang” ucapku bernada manja seperti biasa dengan muka merekah. Haejun oppa langsung melayangkan jitakannya ke kepalaku dengan muka sok kesal, karena gerakannya yang terlalu cepat, aku tidak bisa menghindar dan  mengusap kepalaku sambil mengaduh sakit. 

“kenapa kau baru muncul sekarang!, aku kesepian di sini sendiri” ucapnya. Aku nyengir saja didepannya.

oppa, jangan khawatir,,! aku akan selalu berada disampingmu” desahku dalam hati. Aku mengarahkan pandangan curiga ke arah dongjoo yang sedari tadi berdiri santai menatapku nanar di samping haejun oppa “dongjoo ya,,,apa jaewon tahu rahasia ini?” gerutuku geram dalam hati.
***

Taman rumah sakit
Sore , pukul 16.00

“jaewon a, bagaimana studimu?” tanyaku. Jaewon terlihat sangat menikmati suasana taman ini, taman tempat haejun oppa selalu bertingkah seolah-olah mendengarkan musik dan menghirup udara segar. 

“siapa yang memberitahumu kalau haejun oppa sakit?, kau tahu oppa sakit apa?” aku terus menyerang jaewon dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa menunggu jawabannya satu-satu. 

Jaewon tersenyum ketus mendengarkanku, dia menatapku hangat “kau masih jiyeon yang dulu” ucapnya datar, sikapnya terlihat sangat dewasa dan pintar. Aku menciut di depannya, merasa sangat kerdil, keangkuhan yang dulu masa SMA seperti menjauhiku. Kenyataan gelar di belakang namanya membuktikan saat ini dia adalah seorang master IT, sedangkan aku hanya sarjana biasa yang ilmunya tak seberapa. 

“aku sudah menyelesaikan pendidikan, mulai sekarang aku tidak akan kemana-mana lagi. Saat sampai di rumah aku mengabarkan dongjoo tentang kepulanganku dan bertanya bagaimana keadaan hyeong, dia mengatakan kalau hyeong sakit, ketika aku tanya hyeong sakit apa, dia malah mengatakan  kalau aku tidak perlu khawatir. Dan saat melihat hyeong, dia sepertinya tidak menderita” jelas jaewon panjang lebar tetap dengan mimik muka kalem.

Aku manggut-manggut serius mendengarkan jaewon dan menghembuskan napas lega, dongjoo sejauh ini menepati janjinya pada haejun oppa untuk tidak memberitahukan siapapun termasuk aku. aku bersorak senang dalam hati, rahasia ini masih tersimpan rapi selama dongjoo tidak membuka mulut. 

“jiyeon a, aku ingin menanyakan sesuatu….” Tiba-tiba suara pesan singkat masuk, aku mengangkat tangan isyarat memotong perkataan jaewon. Aku melihat layar HP, jelas tertulis “aku menunggumu di tempat biasa, sekarang..!”.
 
“jaewon a, aku harus pergi, pertanyaanmu yang tadi lain kali saja ya,,!” teriakku sambil berlari terbirit-birit  memperlihatkan tanda oke dengan tanganku. 

“apakah kau masih menyukaiku, jiyeon a walau  sedikit saja?,” tukas jaewon. 

“aku ingin sekali menanyakan prihal ini, tapi kau malah pergi begitu saja seenaknya, apakah pesan itu dari hyeong?, gadis bodoh!”lanjut jaewon kecewa karena dia merasa tidak ada kesempataan lagi untuk menanyakannya lagi.

sungguh bodoh diriku ini, aku melepaskanmu begitu saja dulu. Kini aku menyadari kau sangat berarti, aku begitu kehilangan dirimu. aku bisa membaca dengan jelas dari lakumu bahwa hatimu sekarang hanya untuk haejun hyeong ” batinnya menyesali perbuatannya lima tahun lalu.

Agustus 2012

Tugas kuliah  mempertemukan kembali aku dengan jaewon. Kami lebih sering bertemu, entah kenapa rasa sukaku ketika SMA dulu muncul kembali, cinta lama bersemi kembali. Setelah tugas wawancara selesai, kembali kami jarang bertemu. Aku mulai resah dan gelisah, pikiranku antara jaewon dan jinhae. Karena sampai saat ini jinhae tidak merespon keberadaanku, aku sempat akan mengejar lagi jaewon. ‘sambil menyelam minum air, dua lalat sekali tangkap’ ingin sekali aku menerapkan pepatah ini. 

Kemudian jaewon mengajak bertemu di café favoritku. Aku sudah membayangkan dia akan menyatakan sukanya, tapi sungguh nasib tidak berpihak kepadaku. Dia malah mengabarkan akan pergi kuliah ke luar negeri dan tidak tahu akan kembali. Spontan saja aku mengatakan menyukainya agar dia mengurungkan niatnya. Tapi dia tetap kukuh, masa depannya akan ditentukan dengan pendidikannya kali ini. aku pasrah dengan yang terjadi, bahkan jaewon tidak menjawab perasaanku. Dia hanya berlalu dan menghilang di tengah derasnya guyuran hujan. 

Aku menyalahkan diri sendiri, betapa terlihat bodohnya aku berkata kalau menyukainya. Tidakkah sangat lucu, dan mungkin paling menggelikan ketika jaewon tidak jadi pergi karena ulahku. Aku tersenyum pahit, dan berpikir sungguh egoisnya diriku ini.



November 2017
Teras atap rumah sakit

Dengan napas tersengal-sengal kecapekan, aku mendekati dongjoo dan menyenggol lengannya yang lagi asyik menikmati kopi ditemani sunset sore yang tampak memamerkan keindahannya. Mimik muka marah langsung menyerangku, dia terdiam kesal seperti aku sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa termaafkan.

“kau marah padaku? Lihat mukamu sungguh mengerikan” aku menyengir mengalihkan pandanganku dari mukanya yang merusak suasana. 

“kemana saja kau selama seminggu ini,,,,telepon dan pesanku tidak pernah dibalas” desah dongjoo tak bersemangat, kembali dia meneguk kopinya habis. 

Aku menunduk lesu, menyadari sikapku yang pengecut tak menerima kenyataan. Aku tidak bisa membela diri di depan dongjoo, alibiku mungkin hanya akan memperparah keadaan. Aku memilih diam beberapa saat. 

“aku sudah tidak tahan dengan semua ini, sekarang dengarkan aku baik-baik!” dongjoo memegang kedua lenganku menghadapkan tubuhku tepat didepannya. 

“haejun hyeong…..” dongjoo kembali menarik napas, mulutnya seperti gagu, susah mengeluarkan kata-kata yang sudah ia rangkai. 

“aku sudah tahu, jadi kau tidak perlu mengatakan apa-apa!” ucapku biasa memotong lanjutan kalimat yang akan dilontarkannya. 

Dongjoo kaget mendengarkan, cengkraman tangannya terasa lemas dan melepaskan kedua lenganku, dia menunduk dengan matanya yang memerah. 

“maafkan aku, baru mengatakannya sekarang…hyeong menyuruhku untuk merahasiakan semuanya darimu dan juga semua orang” desahnya lesu.

“malam itu aku mendengar semuanya, yang paling menyakitkan aku menyaksikan oppa menangis. Bahkan di saat keadaannya seperti itu dia masih memikirkan perasaan orang lain” gumamku sambil  menepuk punggung dongjoo menenangkannya.

“aku tidak berdaya, aku tidak bisa menolongnya dengan ilmu dan kecanggihan kedokteran modern sekalipun. Syaraf pendengarannya sudah rusak total” isaknya. Dongjoo menangis menyesal.

“ini bukan sepenuhnya salahmu dongjoo ya, jadi kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Aku ingin bertemu dengan park Hayoung, bisakah kau mempertemukan kami?” mintaku memohon kepada dongjoo.

“park hayoung?,” ucap dongjoo heran.

“sebelum kecelakan terjadi, oppa pernah mengirimkan pesan kalau dia pergi bersama hayoung ke busan. Itu sehari sebelum oppa ditemukan tak berdaya dipantai busan” jelasku, kembali aku mengingat saat-saat itu.

“apakah kecelakaan itu ada hubungannya dengan hayoung?”Tanya dongjoo penasaran.
“aku juga tidak tahu, sekarang aku hanya berharap kau merahasiakan ini dari jinhae dan juga jaewon, mengerti!, bersikaplah seperti oppa bisa mendengarkanmu, seperti biasa sebelum kecelakaan menimpanya” ucapku yakin. 

Dongjoo mengangguk faham, “jiyeon a, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanyanya.

Aku menatapnya dengan senyum licik, “kau lihat saja nanti” tukasku dalam hati.

“mulai sekarang jangan menghilang lagi jiyeon a, tetaplah disisi hyeong apapun yang terjadi. Mantapkan hatimu!” batin dongjoo.

Bersambung……





[1] halo
[2] maaf

2 komentar:

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea