Kamis, 19 September 2013

Suami Brondong

Diposkan oleh mongyimongyi di 09.29
Reaksi: 
“kak, jemput, adik udah selesai pengajiannya ni...” dengan nada manja Rany menelpon suaminya.
what, kakak?” teriakku dalam hati. Aku shock mendengar Rany memanggil suaminya dengan sebutan kakak. Memang bukan rahasia lagi kalau suami Rany lebih muda lima tahun dari dirinya. Bahkan semua akhwat di kampus tahu prihal itu.
ukh,,, syukron ya. Ini HP-nya” tutur lembut Rany dilengkapi senyum khas lesung pipinya yang selalu membuatku iri.
Aku masih terperanjat, setengah sadar aku mengambil HP yang disodorkannya. Sebegitu percaya dirinya Rany memanggil suaminya ‘kakak’ yang notabene panggilan kakak adalah untuk seseorang yang memiliki umur lebih tua. Namun ada sebersit kekagumanku pada sosoknya, dia berani membuat keputusan untuk menikahi seorang ikhwan yang lebih tepat dipanggilnya adik. Sedangkan aku, Quenna Az Zahra, masih melajang hingga kini. Padahal usiaku akan menginjak kepala tiga sebulan lagi, tapi masih belum menemukan tambatan hati yang akan memimpinku mengarungi samudra dakwah ini. Aku terlalu asyik bermain di zona aman, masih memperhitungkan pergunjingan orang tentang diriku yang mempunyai suami brondong.
***
“tidak ada salahnya suami kita lebih muda. Malah sekarang lagi ngetrend di kalangan akhwat” sela Aisyah nimbrung di tengah diskusiku dengan Ulya. Ternyata sedari tadi dia mencuri dengar percakapan kami.
“adik ini, gak sopan menguping pembicaraan orang!” aku membela diri, memasang muka sewot.
“Rasullulah saja lebih muda lima belas tahun dari istrinya, Siti Khadijah. Nah, ini mending mbk Rany cuma terpaut lima tahun, masih wajarlah” Aisyah nyengir merasa sudah memukul KO aku. Terlihat wajah puas, mungkin dengan itu bisa memotivasiku untuk segera menikah.
“itu dengarkan, adik kecil aja ngerti” sindir Ulya, sangat mendukung aksi Aisyah. Aisyah merangkul manja Ulya, mereka saling mengedipkan mata tanda bersekutu membujukku untuk segera memilki pasangan.
“tapi tidak ada salahnya kalau aku menginginkan yang lebih tua, terpaut satu tahun juga tidak apa-apa” gerutuku cemberut, memalingkan muka dari mereka. Dirumah ini tidak ada seorangpun yang memihak kepadaku. Apalagi Umi dan Abi sudah angkat tangan dengan tema ini.
“kalau yang seumuran, mau?” goda Ulya, kembali memancing emosiku yang sudah membeludak-bludak. Aku kian menciut, tiada ruang untuk membela diri lagi. Kata-kata penangkalku terpatahkan, kisah teladan nabi benar-benar senjata ampuh yang mematikan.
“gimana, mau enggak?. Aku sudah ada calonnya ni,,” Ulya semakin ngotot, dia lekas membuka tasnya dan mengambil selembar foto. Bahkan Aisyah kembali berulah, dengan sengaja adik kecilku itu melambai-lambaikan gambar itu di depan mataku.
Sekilas aku melihat, seorang Ikhwan berparas tampan sedikit berjenggot. Sengaja aku mengernyit tak berselera, menjauhkan pandanganku.
“Namanya Azka” ungkap Ulya tersenyum yang kemudian menyerahkan foto itu kepadaku. Dia berpamitan segera meninggalkan kamarku.
“hei, cuma itu doang informasinya!” teriakku, merajuk di atas kasur.
“penasaran ya!” goda Aisyah, membuatku semakin memanas. Usiaku yang terpaut sepuluh tahun dengannya tidak menahan kami untuk menjadi akrab. Bahkan dia kadang-kadang lebih bijaksana dariku.
“untuk selebihnya,,aku tunggu jawabanmu tiga hari lagi. Pertimbangkanlah, perhatikan gambar itu secara seksama, OK” sahut Ulya seraya melemparkan kecupan perpisahan dari jauh.
Aku menjatuhkan diri di kasur. Meringsik-ringsik gemas dengan tingkah sahabat baikku itu. Menggeliat-geliat bagai cacing kepanasan, sangat tidak puas dengan secuil fakta dan selembar foto saja.
“ada apa denganku?” pertanyaan yang jawabannya masih misteri.  Pandanganku tetap terpaku pada foto itu. Derap-derap Tanya muncul dibenakku. Siapa dia?, seperti apa dia?, apa pekerjaannya?, pendidikannya?, semuanya tentang dia membuatku penasaran. Aku sangat ingin tahu siapa sosok Ikhwan ini.
***
Di sebuah Hypermart, Rany menggandeng mesra suaminya. Mereka Nampak sangat menikmati berbelanja sembari berpacaran. Maklum seorang akhwat, masa lajang ditempuh tanpa kekasih pujaan, setelah menikah setiap hari serasa bagai romeo dan juliet.
Aku tersipu melihatnya. senyum-senyum sendiri membayangkan nanti kalau aku menikah mungkin akan seperti itu juga, terus menempel pada suami. Tapi dengan segera mimikku berubah, aku menunduk cemberut, menghadapi kenyataan bakal calon perawan tua kalau tidak segera bertindak.
“Iri ya...” suara menyindir Aisyah, lagi-lagi membuatku memanas.
“siapa yang iri!” ucapku ketus membuang muka.
“wah,mbk Rany mesra banget ya...” Aisyah menggelitik pinggangku, lekas pergi menghampiri Rany dan suaminya. Akupun ikut nimbrung, walau ada rasa malas untuk mendekat.
Setelah berbincang seadanya, Rany berbisik kepadaku “bersegeralah untuk mengerjakan kebaikan, temanku!” aku tersentak, mukaku memerah . Kemudia dia dan suaminya pamit, pergi begitu saja setelah mengatakan itu tanpa rasa bersalah akan menyinggung perasaanku.
Semakin malu diriku. Terbersit tawaran Ulya dibenakku, sudah lebih seminggu aku belum memberikan respon atas foto yang dia sodorkan. Berkali-kali dia menerorku untuk kepastian ke tahap selanjutnya, namun aku selalu meminta waktu lebih untuk berpikir. Sholat istiharah pun tidak luput kulakukan, namun belum jua keyakinan hatiku tertancap mantap.
***
mencarimu kasih bagai mencari mutiara putih”
“walau ke dasar lautan sanggup ku selami”
“namun tak percaya apa yang telah aku terjumpa”
“kau sebutir pasir tak berharga
Nasyid dari Unic mengalun syahudu, menemaniku di sore yang mendung nan indah. Aku berkutat dengan bisikan Rany yang terus menghantuiku. Ditambah bayang-bayang wajah Ulya yang sedang menunggu jawabanku. Aku meraih foto Ikhwan itu, memperhatikannya lagi.
“baiklah,,aku putuskan akan mengenalmu lebih dekat” suaraku lantang meyakinkan diri seraya menunjuk-nunjuk wajah Azka.
 Aku meraih handphone yang ada di laci meja rias. Seraya mematut di kaca, aku mengangguk-ngangguk semangat untuk memencet nomor Ulya.
 “Assalamu’alaikum, ukhti” suaraku berat agak grogi.
wa’alaikummussalam” jawab Ulya ceria, seolah sangat menantikan sapaanku.
“ukh, ana sudah siap sekarang. Bisakah dilanjutkan ta’arufnya?” kata-kataku tegas tidak ada keraguan tanpa basa basi.
Ulya tidak segera menjawab. Dia terdiam cukup lama. “afwan ukh...” suara Ulya melemah, sangat lemah sampai terdengar seperti orang berbisik.
“Azka, ikhwan itu sudah, kemarin sudah melamar akhwat lain” nada sedih Ulya.
Aku termangu, gurat kekecewaan membingkai wajahku. Melihat diri di kaca dengan penyesalan yang teramat dalam. Andai saja aku tidak berpikir terlalu lama, andai saja aku langsung menerima tawaran Ulya waktu itu. nasi sudah menjadi bubur, tidak akan bisa dikembalikan seperti sedia kala.
“Quenn...Quenna...” Ulya berteriak khawatir di balik telepon yang masih tersambung.
“aku tidak apa-apa,,jangan berteriak cemas gitu dong, anti kira ana anak SMA apa,,” sahutku bercanda biasa, seperti tidak berharap lebih.
“ana juga dapat kabar hari ini, kaget banget dengarnya ukh,” Ulya merasa tidak enak hati.
“jangan khawatir!, mungkin bukan dia orangnya,hehe...” aku tertawa pahit.
“seseorang yang Allah persiapkan sedang menunggu anti. InsyaAllah segera bertemu, amin...” Ulya berusaha mengibur diriku. Dia sangat memahami siapa aku, pasti ada sebersit kecewa dalam hatiku.
“Amin,syukron ya. Sahabatku yang paling baik, rajin menabung dan tidak sombong” kembali aku membuat kelakar yang garing kemudian mengakhiri perbincangan sore itu.
Perasaanku berkecamuk, perih. Air mataku luruh, menetes membasahi foto ikhwan itu. hanya satu kata yang terngiang di kepalaku “Azka”. Allah tidak merestui kita berkenalan lebih dalam, karena Antum memang sudah dipasangkan dengan akhwat yang akan menjadi istrimu kini. Karena aku bukanlah tulang rusukmu yang bengkok.
***
Tiga bulan berlalu,,,
Matahari terbenam menyambut sore mengantarkan petang. Deru ombak menuju pantai, bergulung membasahi pasir putih berbulir halus. Sayang tidak ada lambain nyiur khas pantai tropis. Namun terbayar oleh panorama laut yang begitu menakjubkan.
Ramai benar pantai ini di waktu senja. Nelayan sibuk persiapan melaut di malam hari, anak-anak kecil menjerit-jerit senang bersua dengan kawan sebaya, bermain pasir dan kejar-kejaran sedangkan para orang tua asyik dengan gossip masing-masing. Tempat yang tepat melepas penat setelah seharian berkutat dengan urusan yang tak kunjung berujung.
Aku menarik napas, tercium bau khas samudra biru. Hembusan napas seiring dengan angin petang menerpa wajahku yang terlampau kusut. Aku duduk merenung menopang dagu di bibir pantai. Mengingat memori yang sudah usang tersimpan rapat di gudang ingatanku. Mengenang selembar foto bergambar suami orang sekarang.
trililit,,trililit,,trililit” nada jadul HP-ku berbunyi, membuyarkan lamunanku yang tak berarti.
Dengan malas aku mengambil HP itu di kantong gamis, “tuuukkkk!!” naas HP-ku jatuh ke hamparan pasir. Tanganku terasa sangat lemah untuk menggegamnya. Aku terdiam, tidak memungutnya tak peduli, terus memandang ke depan. Tidak mau ada yang mengganggu walau dia adalah umi dan abiku.
afwan ukhti, ini HP nya” suara serak berat seorang lelaki membuatku tersentak.
Aku memandangnya sekejap. Penglihatanku buram karena memandang matahari terlampau lama. Segera aku meraih HP itu “syukron,” ucapku datar. Namun pria itu masih saja berdiri di depanku. Sepertinya dia sengaja untuk menghalau sinar yang menerpa wajahku. Aku tidak menggubrisnya, tidak juga marah karena menutup jangkauan mataku dari sang raja siang, malah aku menikmati orang itu berdiri di sampingku. Seolah ada seseorang yang sedang menjagaku dan ingin mengisi kekosongan hatiku. Lama dia berdiri, menungguku beranjak dari tempat itu. aku diam menunduk, diapun tidak mau angkat suara.
Matahari hampir tenggelam, orang itu pergi segera saat aku juga meninggalkan tempat itu. kami berjalan ke arah yang berbeda. Aku berhenti, punggungku seakan terpanggil untuk menoleh ke belakang. Dengan sedikit keraguan aku menengok juga, dan tak terduga orang itu melambaikan tangannya kepadaku seraya berjalan mundur. Aku melihat ke sekitar, tidak ada orang yang di tuju kecuali aku, lambaian itu. Aku semakin mempertajam penglihatan tapi bagai bayangan hitam, sosoknya tidak jelas terlihat. Aku tersenyum simpul kege-eran, karena dialah orang pertama yang menggoyang-goyangkan tangannya untuku. Mungkin bisa berarti selamat tinggal atau bisa juga bermakna sampai jumpa lagi.
***
“Quenn...Quenn...” Ulya memanggilku bersemangat. Sepertinya ada sesuatu yang akan dia sampaikan. Langkah kakinya dipercepat untuk menyamai gerakku. Saat kami dalam posisi sejajar, dengan keras dia menepuk pundakku.
“awww!, sakit tahu!” gumamku lirih. Aku mengelus-elus pundak yang kena damprat. Ulya nyengir tak berdosa.
“namanya Ahmad Alvin Fathurrahman, dosen baru. Kayaknya lulusan inggris, mungkin Oxford University. Dia mengajar mata kuliah kimia polimer. Gelar ph.D dan masih muda dan alim pula” ulya nyerocos sepanjang koridor kampus A Fakultas MIPA Universitas Indonesia. Perguruan tinggi tempatku mengabdi selama lima tahun ini. Sahabatku Ulya juga mengajar di tempat ini. Ibarat siang dan malam, kami tidak terpisahkan sejak SMA sampai duduk di bangku dosen, yang berbeda dari kami adalah aku masih lajang sedangkan Ulya sudah menggendong anak.
“terus gue harus bilang wow gitu!” aku masih cemberut. Moodku pagi ini  sungguh buruk.
“ahemmm...” suara batuk yang di sengaja. Sontak kami berdiam mematung. Suara itu terdengar familiar di telingaku. Sesosok tubuh tegap berdiri siaga di depan kami kemudian mendekat dan semakin mendekati kami. Aku menyenggol Ulya yang bak terhipnotis.
“astaga,,jangan-jangan dia mendengar semuanya tadi” batinku tegang.
Assalamu’alaikum, perkenalkan nama saya Alvin. Dosen baru di sini” sapanya ramah penuh senyuman. Dia menempelkan kedua telapak tangannya dan sedikit menganggukkan kepala. Dia mengerti kalau kami tidak berjabat tangan dengan seseorang laki-laki yang bukan mahram.
wa’alaikummussalam, saya Quenna, panggil saja Quenn” ucapku gugup. Terasa keringat dinginku muncul. Aku menjadi salah tingkah. Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Dan sepertinya Ulya bersorak sorai melihatku begitu kikuk di depan Alvin.
“baiklah kalau begitu, saya pergi duluan” Alvin berjalan mundur beberapa langkah masih memandangi kami. Kemudian dia melambaikan tangan sebelum membalikkan tubuhnya menjauh dari posisi kami.
Aku tersentak “apakah dia orang yang di pantai itu?” gerutuku dalam hati. Aku menggeleng menyangkalnya tetapi hatiku membenarkan bahwa dialah orang yang sama, sosok buram yang kini terpampang nyata di hadapanku.
what ! Cuma segitu doang yang dia katakan. OMG,” Ulya lagi-lagi menyikutku, namun kini senyumku tersungging, manis sekali.
***
“ukhti, bisakah kita bertemu? Ada yang mbak perlu diskusikan, penting!. Datanglah ke rumah jam empat sore!” suara lembut murobbiku mbk Ina di balik telepon.
Hatiku tiba-tiba dag dig dug. Tidak biasanya sang murobbi ngomong empat mata denganku.
“penting?, tentang apa?” aku berusaha menerka-nerka apa yang akan dibicarakannya. Keningku mengerut, membuka lembar demi lembar kemungkinan persoalan yang akan di bahas.
Dari kampus, aku melaju ke rumah morobbi. Perasaanku gundah gulana yang semakin diperumit dengan merayapnya jalanan kota Jakarta. Macet, membuat mobilku bergerak bagai suster ngesot.
“apakah biodata lagi?” gumamku pada diri sendiri.
Pukul lima sore, nyampe juga di rumah mbk Ina. Lewat dari janji yang sudah ditentukankan. Mau bagaimana lagi, Jakarta ibarat makanan empuk di sarang semut. Mobil berbagai merek memenuhi jalanan sempit yang tak kunjung diperlebar.
“Assalamu’alaikum, afwan mbak, ana telat. Biasa macet!” sembari cipika cipiki.
Murobbiku tersenyum penuh pengertian. Kemudian dia mengeluarkan amplop coklat besar yang mirip bungkus surat lamaran pekerjaan.
“buka, baca dan perhatikan dengan teliti. Mbak berharap ini amplop terakhir untukmu ukhti!” suara itu selalu menenangkan ketika aku medengarnya, penuh kasih sayang.
Benar dugaanku pasti isinya biodata lagi. Aku mengambil amplop itu penuh kelesuan. Murobbiku akhir-akhir ini memang gencar sekali memburu para ikhwan yang layak bersanding denganku. Tidak main-main kualifikasi yang beliau pasang, high class bisa di bilang begitu. Tapi sayang, selalu lebih muda dariku. Prinsipku sangat kokoh mengenai usia ini, tertancap kuat bagai akar pohon jati. Sangat sulit di cabut untuk dihilangkan.
Aku membuka amplop itu. Terkesiap bukan main diriku. Mataku terus melotot memandangi lembaran 3R itu. seseorang yang aku bertemu dengannya siang ini “Ahmad Alvin Fathurrahman”. Lahir di Bogor, 13 Oktober 1986.
“lebih muda tiga tahun. Apakah kali ini di tolak juga, dek?” tanya mbk Ina seperti telah membaca alur batinku.
Mukaku memelas “tidak adakah yang seumuran atau yang lebih tua dariku mbk?” suaraku terdengar lirih. Sangat berat sebenarnya berbicara seperti itu, karena hati kecilku berbicara sangat menginginkan Ikhwan ini mungkin sejak saat bertemu di pantai waktu itu.
“sulit mencari yang sesuai keinginanmu dek. Sekarang, kebanyakan Ikhwan muda yang lebih getol untuk menikah. Jangan khawatir dek, laki-laki itu sangat bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Dia bisa menjadi sangat dewasa dan bijaksana walau umurnya lebih kecil dari kita” ceramah mbk Ina panjang lebar, berusaha meyakinkan aku untuk menerima biodata itu.
“Pertimbangkanlah, dek !. tiga hari, Alvin menuggu jawaban adek. jangan sampai adek menyesal di kemudian hari”.
Kata menyesal mengingatkanku kembali pada Azka. Tidak bisa dipungkiri memang aku sangat menyesal karena terlambat menerima tawaran dari sahabatku Ulya.
“inilah saatnya adek mereguh kebaikan sebesar-besarnya. Bukankah menikah adalah ladang pahala yang sangat subur untuk digarap bersama?” mbk Ina kembali menyerangku dengan fakta tanpa pengingkaran.
ana akan mempertimbangkannya mbk. Syukron!” aku tertunduk malu. Malu bukan karena usiaku, tapi lebih kepada prinsipku yang sudah ketinggalan jaman. Dari dulu aku memang masih kukuh dengan pemikiranku, sungguh malu-maluin rasanya mempunyai suami muda.
***
“bagaimana menurut Abi dan Umi?” aku menyodorkan biodata itu. Aku tidak mau mengulur waktu lagi. Tiga hari adalah tenggat waktu yang sangat singkat untuk pengambilan keputusan.
Abi dan Umi membaca secara cermat secarcik kertas penting itu. Aku perhatikan, beragam ekspresi mereka tunjukkan. senyum-senyum, manggut-manggut tapi tampak jelas keseriusan dari mimik mereka. Aku sabar menunggu, tidak berbicara sepatah katapun. Adikku aisyah tidak kalah tegang seakan posisiku tergantikan olehnya. Aku memegang tangannya dan benar saja dingin karena grogi. Pengharapannya mungkin sangat besar untuk melihatku mengakhiri masa lajang.
“Abi dan Umi memberikan restu. Keputusan tetap ada di tanganmu, Quenn” Abi memecahkan keheningan.
“bahkan Ikhwan ini terlalu sempurna untukmu” canda Umiku membuat tawa Abi dan Aisyah meledak. Wajahku memerah menahan malu.
“gimana kak? Mau ya,!” Asiyah menarik-narik ujung jilbabku, merengek untuk membujukku.
“sebenarnya aku juga suka. Tapi...” suaraku tercekat, seperti ada batu yang mengganjal tenggorokanku.
“tapi dia lebih muda dariku. Itukan yang mau kakak katakan. Kak, please,, hilangkan prinsip konyolmu itu. orang-orang akan tertawa mendengar argumen seperti itu sebagai penyangkalan. Bukankah Rasullulah menyuruh kita melihat agama dan akhlak seseorang terlepas dari tampang, harta dan keturunan apalagi mempermasalahkan usia, sama sekali tidak masuk akal” omel Aisyah, membuat semua isi ruangan itu terbelalak. Ternyata adikku lebih dewasa walau umurnya remaja.
“Aisyah benar. Istikharohlah malam ini, nak! ” kata bijak umiku.
Malam itu aku benar-benar meminta petunjuk Allah. Bersimpuh meminta keputusan-Nya tentang hidupku yang sudah tercatat rapi di lauh mahfuz.
***
Jakarta macet, sepertinya tidak ada barang sedetikpun waktu lengang. Entah itu pagi buta, jalanan sudah tertutupi besi bergerak. Jadwal mengajar pukul tujuh terancam batal.
“oh, tidak!” gerutuku. Aku mengintip jam di tangan, jarum panjang sudah merangkak mendekati angka tujuh. Lampu merah memperparah keterlambatanku. Ini akan mencoret nama baikku sebagai dosen paling on time. Tidak bosan-bosannya mataku bergerak mengawasi. Akhirnya lampu hijau yang ditunggu menyala juga, tapi kenapa mobil-mobil di depanku tidak bergeser secuilpun. Kesabaranku mulai mendidih. Menggila aku memencet bel mobil sekenceng-kencengnya. Teriakan di belakangku juga semakin membludak. Aku turun dari mobil, melangkah ke depan. Terlihat kerumunan orang seperti lalat berebut sepotong roti basi. Entah apa yang ada di sana sehingga begitu banyak menyedot perhatian warga. Aku bergerak semakin depan, namun tidak bisa kutembus rapatnya kerumunan itu. bukan karena aku tidak mampu, tapi kehormatanku sebagai Akhwat lebih utama. Kubiarkan rasa penasaran menguap ke angkasa. Aku masih berdiri di badan jalan, terdengar suara sirine ambulan semakin mendekat. Petugas medis memecah kerumunan itu dan berhasil menggotong seseorang bersimbah darah. Tampak sekilas tubuh yang sangat aku kenal.
“tidak mungkin!, tidak mungkin! Itu bukan Alvin, itu bukan dia” ucapku lemah. Aku linglung, kepalaku serasa terbentur sesuatu yang tumpul, sakit sekali. Tubuhku lemas dan tidak sadarkan diri.
Keputusanku sudah mantap. Aku bersedia menikah dengannya. Tidak peduli pembicaraan orang tentang usiaku dan usianya. Karena aku menyukainya. Suka dengan akhlaknya yang mungkin akan membawaku kepada cinta abadi, yaitu cinta Allah. Hari ini adalah hari terakhirku untuk memberi jawaban pasti.
Aku tersadar, langsung bau khas rumah sakit menusuk hidungku. Kepalaku masih terasa puyeng, namun kupaksakan untuk terduduk. Aku melihat Ulya disampingku, kemudian memelukku erat. Matanya merah, pasti sudah menangis.
“Abi, Umi, dan Aisyah sedang diperjalanan menuju ke sini” suara Ulya serak, nangis habis-habisan rupanya. Aku tersenyum melihatnya.
“waktumu sudah habis. Ya atau tidak!” Alvin muncul dari bilik pintu. Aku terkaget sekaligus lega. Bukan dia orang yang ditandu tadi. Bahkan sekarang dia berdiri sangat cool bagai pemeran utama drama korea.
Aku menunduk malu, menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Tidak berani menghadapi tatapan Alvin yang membahayakan.
“aku yang menghubunginya. Aku pikir dia sangat panik ketika aku mengatakan kamu dibawa ke rumah sakit” Ulya nyengir penuh kemenangan. Ternyata Alvin bersekongkol dengannya. Bahkan melalui Ulya, biodata Alvin sampai kepada murobbiku, mbk Ina. Kenapa aku tidak membaca gelagat liciknya dari awal. Pantas dia terus mempromosikan Alvin kepadaku.
“ya atau tidak?” suara Aisyah, lagi-lagi menggodaku. Abi dan Umi juga sudah datang. Mereka menatap kepadaku penuh harap. Mbk Ina juga datang. Seperti persekutuan besar-besaran terjadi.
Dan akupun mengangguk, tidak hanya sekali namun berkali-kali.
 “aku akan menikah!!” teriakku senang dalam hati.


7 komentar:

  1. wah "berat", Yiq....menohok. dan, yg ngelamar Rasulullah juga Khadijah, ra.. ^_^

    awal baca geli sendiri karena Yiq gitu lho, bikin cerita kayak gini. lalu agak gimana gitu, gimana gitu apalagi pake nyimpen2 foto.
    ngakak pas "terus gue harus bilang waw gitu." sy jadi ngebayangin si Quenn bukan umur 30.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari ahlinya membuat cerpen,,,kekurangannya banyak banget. kata mereka ceritanya gak mengalir dan penulisan masih berantakan banget. tapi tetap aja yiq posting karena ini hasil jerih payah selama berminggu-minggu,,hehe

      Hapus
    2. ahli apanya...tapi aamiin, semoga suatu saat..

      nah itu yg masih susah merangkai kata-kata jadi kalimat lalu paragraf kemudian cerita...keseluruhan sih bagus Yiq, mungkin karena terlalu cepat perubahannya jadi ini cocoknya bikin novel. cocoknya agak panjangan lagi ceritanya, kan udah berminggu-minggu :D

      sering-sering aja Yiq bikin. coba liat cerpen2 sy, ada aja yg masih belum pas rasanya. masih terasa kurang alami, agak tergesa atau dipaksakan.

      Hapus
    3. pasti bikin lagi yang lain,,,ditunggu aja unn,,,,

      Hapus
  2. wah... yang kyak gini masih dibilang kurang ngalir?? emangnya air... kkkk... wah daebak... ane ampe merinding...bukan karena cerita, tapi lebih karena yang buat cerita itu Yiq... ampun dewasa banget...ane aja baru tahu yang kayak gitu2... kkk... keren... ampe skrg ane masih belum bisa buat cerita kayak gene... ane masih dalam taraf amatiran... cerita cinte anak2 ABG, kkk..

    yup!! ane tunggu cerita selanjutnya!!! caiyo!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. ane riset dulu itu unn,,,,mencari informasi melalui wawancara para akhwat dan umahat yang berpengalan,,,ane juga ketawa sendiri baca cerpen ini,,,hehehe

      Hapus
    2. ampuuun niat banget....:P

      Hapus

sedikit coretan darimu sangat berarti untukku menjadi lebih baik lagi. apapun itu tumpahkanlah isi pikiranmu tentang tulisan ini, terimakasih

 

mongyimongyi !! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea